HIV Aids di Papua
Menuju Papua Ending AIDS 2030, Dinkes Optimistis Tak Ada Infeksi Baru dan Kematian
Papua Ending AIDS 2030 dapat terwujud apabila ada komitmen kuat bersama, antara Pemerintah Daerah, LSM, Dinas Kesehatan dan masyarakat
Penulis: Aldi Bimantara | Editor: M Choiruman
Terlepas dari itu, pihaknya menekankan pada perubahan pola pikir masyarakat, terkait dengan HIV/AIDS dalam menuju Papua Ending AIDS 2030.
"Sebenarnya HIV/AIDS itu bukan penyakit mematikan, kutukan, dan membuat keluarga jadi terisolasi serta dikucilkan, tetapi HIV/AIDS adalah penyakit kronis yang dapat dikelola," tegasnya.
Ia menegaskan pula, HIV/AIDS ada obatnya yakni obat Anti Retroviral (ARV), yang apabila dikonsumsi rutin dan baik sesuai prosedur, maka ODHIV dapat hidup lebih produktif.
• 2.563 Kasus HIV/AIDS di Merauke Hingga September
Dikatakan Rindang, pada tahun 2017, ketentuan pemberian ARV kepada pasien telah berubah, di mana sudah tidak lagi melihat dari stadium dan jumlah CD4.
Setelah dinyatakan positif, waktu pemberian ARV dari petugas kesehatan bergantung pada kesiapan pasien, saat pemberian konseling yang diberikan.
"Kalau saat itu juga dia bersedia maka sudah bisa diberikan ARV, dan setelah menerima ARV maka pasien akan mendapatkan informasi soal kepatuhan minum obat," tuturnya.
• Pesan Ketua Harian KPA Papua Anton Mote: Ayo Cegah HIV-AIDS di Tengah Kita
Karena Papua masuk dalam kategori epidemis meluas tingkat rendah, maka semua pasien yang berkunjung di fasilitas kesehatan akan ditawarkan dan dianjurkan untuk tes HIV.
"Fakta di lapangan memang tidak semua bersedia karena kembali lagi stigma dan tabu itu masih menjadi momok di masyarakat kita, sehingga yang sering terjaring dari giat screening di perkantoran, pelabuhan, dan event-event tertentu," ungkapnya.
Menyongsong Papua Ending AIDS 2030, pihaknya terus berupaya untuk melakukan perubahan pola pikir ataupun cara pandang masyarakat terhadap HIV AIDS dan ODHIV.
• Nabire Urutan Pertama Penderita HIV-AIDS di Papua
Ia menyebutkan, penularan HIV AIDS berpotensi terjadi apabila melakukan seks beresiko, dengan berganti-ganti pasangan.
Sekadar diketahui, data temuan kasus kumulatif HIV AIDS di Papua sejak tahun 1992 hingga Juni 2022 mencapai 49.011 kasus.
Dinkes Provinsi Papua mencatat terjadi penurunan kasus kumulatif tahunan di beberapa daerah dalam beberapa tahun terakhir. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/dr-rindang-pribadi-marahaba.jpg)