Jumat, 1 Mei 2026

Pemilu 2024

Hasil Studi Kaukus Keswa: Pemilu 2024 Tingkatkan Risiko Kecemasan dan Depresi

Data sebelum pemilu menunjukkan angka depresi sedang-berat 6 persen dan gangguan emosi termasuk ansietas sedang dan berat 9,8 persen.

Tayang:
Tribun-Papua.com/Istimewa
Prof Nila F Moeloek bsersama sejumlah inisiator Kaukus Keswa Kemenkes memaparkan hasil studi tingkat prevalensi kecemasan dan depresi pasca-Pemilu 2024. 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAKARTA - Tingkat prevalensi kecemasan atau anxiety sedang-berat pasca-penyelenggaraan Pemilu 2024 mencapai 16 persen dan Depresi (depression) sebesar 17,1 persen.

Hal ini diperoleh dari studi observasional terkait Kesehatan Jiwa dan Pemilu yang dilakukan oleh Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa.

Ketua Tim Peneliti dan Inisiator Kaukus, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, mengatakan temuan prevalensi kecemasan dan depresi ini lebih tinggi dibanding data hasil Riskesdas 2018 dan Direktorat Keswa Kementerian Kesehatan (Kemenkes) 2022.

Menurut Ray, data sebelum pemilu menunjukkan angka depresi sedang-berat 6 persen dan gangguan
emosi termasuk ansietas sedang dan berat 9,8 persen.

Jadi terlihat memang meningkat bila dibandingkan temuan kami yang dilakukan tepat sesaat setelah hari pencoblosan, yaitu antara 14 hingga 16 Februari 2024.

Baca juga: Eltinus Omaleng Imbau Masyarakat Mimika Terima Hasil Pemilu 2024

Dan terlihat bahwa risiko nya pun semua terkait dengan persepsi kesehatan jiwa yang berhubungan dengan proses partisipasi Pemilu,” ungkap Ray yang merupakan Ketua Health Collaborative Center (HCC).

Dalam pemaparan hasil studi itu, tim peneliti dan inisiator Kaukus yang terdiri dari Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, Prof. Dr. dr. Nila F Moeloek, Prof. Dr. Tjhin Wiguna, dan Kristin Samah ini menjelaskan secaara metodologis sruvei ini memiliki tingkat keppercayaan sebesar 95 persen dan margin of error 2 persen, sehingga bisa dikatakan kredibel dan mewakili kondisi di masyarakat Indonesia.

Dengan responden sebesar 1077, studi ini juga menemukan bahwa risiko yang muncul terkait proses dan partisipasi Pemilu 2024 meningkatkan potensi kecemasan (ansietas) sebesar 2 kali dan risiko depresi pun meningkat hingga 3 kali lipat.

Menurut Prof. Nila F Moeloek yang merupakan inisiator kaukus, temuan ini menunjukkan bahwa perlu ada intervensi dan mitigasi khusus di masyarakat.

Orientasinya adalah mencegah supaya kecemasan dan depresi tidak memberat.

"Sebab, ansietas dan depresi adalah pintu masuk untuk gangguan jiwa serius bahkan bisa fatal, jadi dicegah,” ungkap Menteri Kesehatan RI 2014-2019 ini.

ua Tim Peneliti dan Inisiator Kaukus, Dr. dr. Ray Wag
Ketua Tim Peneliti dan Inisiator Kaukus, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, mengatakan temuan prevalensi kecemasan dan depresi ini lebih tinggi dibanding data hasil Riskesdas 2018 dan Direktorat Keswa Kementerian Kesehatan (Kemenkes) 2022.

Lebih lanjut tim peneliti Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa merekomendasikan agar pemerintah dan segenap komponen masyarakat perlu menjadikan suasana komunitas untuk tidak berlarut-larut membahas aspek konflik dan perbedaan politik pasca Pemilu.

Sebaliknya, perlu ada sudut pandang positif agar situasi pasca pemilu menjadi nyaman.

Kaukus juga merekomendasikan pentingnya penguatan akses pelayanan kesehatan jiwa di tingkat
komunitas dan layanan primer, termasuk membuka potensi konseling di puskesmas.

Survei hubungan kesehatan jiwa dengan Pemilu 2024 ini menggunakan metode observasional kuantitatif dengan design cross sectional melalui kuesioner online.

Sumber: Tribun Papua
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved