Liga Champions
Manchester City, Raja Sepak Bola Eropa yang Putus Asa
Secara agregat, mestinya mental para pemain City lebih siap lantaran leg kedua digelar di kandangnya. City gagal memanfaatkan peluang pada leg kedua.
Penulis: Paul Manahara Tambunan | Editor: Paul Manahara Tambunan
Sementara itu, para pemain Real justru menunjukkan mentalitas terbaiknya. DNA Eropa mereka teruji.
Tim besutan Pelatih Carlo Ancelotti itu bahkan unggul lebih dulu pada awal babak pertama melalui sontekan Rodrygo.
Gol Rodrygo memicu City meningkatkan intensitas serangan.
Real mampu meladeni permainan City di babak pertama.
Memasuki babak kedua, City mengerahkan segala yang mereka bisa untuk menyamakan kedudukan.
Situasi pun menjadi berat sebelah.
Para pemain City mengurung Real di area pertahanan tanpa memberikan satu pun kesempatan kepada mereka untuk berbalik menyerang.
Total terdapat 15 upaya tembakan dari City dengan lima di antaranya tepat sasaran di babak kedua.
Meski begitu, City harus menunggu hingga menit ke-76 untuk menciptakan gol penyeimbang yang dilesakkan Kevin De Bruyne.
”Kami sangat menderita malam ini karena City benar-benar membuat Anda berada di bawah tekanan. Namun, kami adalah Real Madrid. Kami selalu, selalu berjuang hingga akhir,” ucap kapten Real, Nacho, selepas pertandingan, dikutip dari laman UEFA.
Bertemu Muenchen di semifinal
Musim ini City belum pernah takluk di kandangnya.
Real menjadi tim pertama yang mampu melakukannya.
Semua itu diraih berkat penampilan heroik sepanjang laga.
Sebagaimana kata Nacho, nyaris tidak ada waktu bagi pemain Real untuk bernapas dari gempuran-gempuran City.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/ADU-PENALTI-Para-pemain-Manchester-City-menyesali-kegagalan-merek.jpg)