Liga Champions
Manchester City, Raja Sepak Bola Eropa yang Putus Asa
Secara agregat, mestinya mental para pemain City lebih siap lantaran leg kedua digelar di kandangnya. City gagal memanfaatkan peluang pada leg kedua.
Penulis: Paul Manahara Tambunan | Editor: Paul Manahara Tambunan
Kunci keberhasilan Real meredam gelombang serangan City terletak pada kedisiplinan para pemain dalam bertahan.
Vinicius Junior, Rodrygo, dan Jude Bellingham yang beroperasi di lini serang rajin turun membantu pertahanan.
Mereka kerap turun jauh hingga ke area sepertiga akhir pertahanan Real.
Upaya itu bertujuan agar lini belakang Real tidak kalah jumlah dari City yang menerapkan garis pertahanan tinggi.
Dalam bertahan, para pemain Real juga konsisten membentuk pola 4-4-2 dan merapatkan jarak antarlini demi membatasi opsi operan pemain City.
Pertahanan yang kokoh menjadi awal yang baik untuk melancarkan serangan.
Real memanfaatkan situasi serangan balik untuk mengeksploitasi garis pertahanan tinggi City.
Pilihan City menerapkan garis pertahanan tinggi menyisakan ruang yang begitu lebar antara kiper dan bek.
Ruang ini yang dimanfaatkan Real untuk melancarkan serangan.
Gol Rodrygo tercipta dari situasi seperti itu, saat pertahanan City belum terbentuk sempurna.
Serangan balik Real tersusun rapi sekaligus terencana.
Rodrygo dan Vinicius ditugaskan sebagai motor serangan balik.
Mereka juga sering bertukar posisi untuk melepaskan diri dari pengawalan ketat bek City.
”Kami bertahan dengan sangat-sangat baik malam ini. Ini tentang kelangsungan hidup. Madrid adalah klub yang selalu berjuang untuk bertahan dalam situasi di mana sepertinya tidak ada jalan keluar, tapi kami selalu menemukan jalan,” kata Ancelotti.
Setelah tertinggal satu gol, City menemui kebuntuan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/ADU-PENALTI-Para-pemain-Manchester-City-menyesali-kegagalan-merek.jpg)