Jumat, 10 April 2026

Info Nabire

Mengenal Daily Activity dan Livehood Warga Kabupaten Nabire

Mata pencaharian atau livelihood warga Nabire terbagi dalam 3 rumpun, yaitu masyarakat Nabire gunung, masyarakat Nabire pantai, dan pendatang.

Penulis: Yulianus Degei | Editor: Lidya Salmah
Tribun-Papua.com/ Istimewa
Tampak daily ativity dan livehood warga Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Yulianus Degei

TRIBUN-PAPUA.COM, NABIRE- Aktivitas sehari-hari atau daily activity warga Kabupaten Nabire, Papua Tengah, lebih banyak sebagai pedagang di pasar.

Sementara itu, mata pencaharian atau livelihood warga Nabire terbagi dalam 3 rumpun, yaitu masyarakat Nabire gunung, masyarakat Nabire pantai, dan pendatang (non Papua).

Masyarakat Nabire Gunung aktivitas utamanya berkebun, masyarakat Nabire Pantai aktivitas utamanya nelayan, dan masyarakat pendatang aktivitas utamanya pedagang.

Baca juga: Pengusaha Bengkel OAP Keluhkan Pengurusan Surat Perizinan Usaha di Kabupaten Nabire

Pada kesempatan ini, Tribun-Papua.com akan membahas aktivitas keseharian dan mata pencaharian warga Nabire gunung.

Masyarakat Nabire gunung terdiri dari suku Mee, suku Damal, suku Dani, suku Moni, dan Nduga.

Berdasarkan data yang di himpun Tribun-Papua.com, masyarakat gunung berlatar belakang mayoritas petani, dan aktivitas utamanya adalah berkebun.

Mereka membuka kebun di pinggir kota, dan menanam berbagai tanaman diantaranya, petatas, keladi, keladi manado, singkong, dan pisang. Semntara itu, berbagai sayur-sayuran yang ditanam adalah gedi, bayam, sawi, kangkung, dan katuk.

Hasil dari berkebun tersebut sebagian dikonsumsi sendiri, dan sebagian dijual di pasar.

Hasil dari berkebun juga dibawah ke pasar untuk dijual, dan menjadi aktivitas sehari-hari mayoritas masyarakat Nabire gunung, selain berkebun.

Untuk harga umbi-umbian seperti keladi, petatas, keladi manado, singkong, dan pisang, berkisar antara Rp. 20.000-Rp. 100.000.

Sementara itu, harga komoditas sayur-sayuran, seperti gedi, bayam, kangkung, sawi, dan katuk, berkisar antara Rp. 5.000-Rp. 10.000/ikat.

Baca juga: Mencari Emas di Kali Bonai, Begini Cara Ibu-Ibu di Sanoba Habiskan Waktu di Akhir Pekan

Maria Kobogau, satu dari sekian warga lokal Nabire mengaku bahwa, pendapatan dari hasil jualan bisa mencapai Rp. 300.000-500.000/perhari.

Hasil jualan tersebut dibagi dua, sebagian untuk membiayai anak sekolah, dan sebagian digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Suami saya bekerja membuka kebun, dan setiap hari saya datang menjual hasil kebun dipasar. Hasil dari jualan, saya sering mendapat Rp. 300.000 sampai Rp. 500.000/hari,"akunya. 

Sumber: Tribun Papua
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved