Sastra
Membaca Cerpen 'Robohnya Surau Kami' Karya A A Navis dalam Perspektif Poskolonial
Haji Ali Akbar Navis (1924–2003) atau dikenal dengan nama A. A. Navis adalah sastrawan dan kritikus budaya kelahiran Padang Panjang, Sumatra Barat.
Tulisan ini akan fokus membahas salah satu cerita pendek karya A. A. Navis yang berjudul “Robohnya Surau Kami”.
Cerita pendek ini menjadi perhatian karena karya ini dianggap dapat mewakili cerita kehidupan spritual manusia.
Cerita pendek ini layak dibaca ulang dan dikaji melalui berbagai perspektif, salah satunya melalui perspektif poskolonialisme, ada juga yang menyebutnya dengan pendekatan pascakolonialisme.
Sebelum membahas lebih jauh tentang poskolonialisme ini, saya perlu menyinggung sedikit tentang kolonialisme, mengingat bahwa poskolonialisme diawali dengan adanya kolonialisme.
Kolonialisme yang dibahas juga khusus kolonialisme yang terjadi di Indonesia.
Terjadinya kolonialisme di Indonesia secara khusus memiliki sejarah perkembangan yang sangat panjang, menyangkut persoalan ekonomi, sosial, politik dan agama.
Kedatangan bangsa barat pada dasarnya bukan dengan maksud menjajah sebagaimana diyakini oleh masyarakat pada umumnya.
Kehadirannya di dunia timur tidak secara serta-merta dapat dikaitkan dengan maksud untuk mengadu domba, memecah belah, melakukan monopoli, berperan, dan berbagai tujuan lain untuk menguasai.
Kolonialisme maupun imperialisme, serta berbagai sarana yang menyertainya harus dipahami secara multidimensional, sebagai interdisipliner.
Secara etimologis ‘poskolonial’ berasal dari kata ‘post’ dan ‘kolonial’, sedangkan kata ‘kolonial’ itu sendiri berasal dari kata ‘coloni’ dalam bahasa Romawi yang berarti tanah pertanian atau pemukiman.
Jadi, secara etimologis ‘kolonial’ tidak mengandung arti penjajahan, penguasaan, pendudukan, dan konotasi ekploitasi lainnya.
Konotasi negatif kolonial timbul sesudah terjadi intraksi yang tidak seimbang antara penduduk pribumi yang dikuasai dengan penduduk pendatang sebagai penguasa.
Baca juga: Black Brothers dan Kiprahnya di Pusaran Organisasi Papua Merdeka: Kisah Perjalanan Band Musafir
Dikaitkan dengan pengertian kolonial terakhir (Loomba, 2003: 2-3), maka negara-negara Eropa modern bukanlah kolonialis yang pertama.
Penaklukan terhadap suatu wilayah tertentu telah dilakukan jauh sebelumnya, misalnya tahun 1122 SM dinasti Shang di Cina ditaklukkan oleh Dinasti Chou, kekaisaran Romawi abad ke-2 M menguasai Armenia hingga Lautan Atlantik, tahun 712 lembah Sungai Indus ditaklukkan oleh Muhammad bin al-Qassim, bangsa Mongol menguasai Timur Tengah dan Cina, bangsa Aztec abad ke-14 dan Kerajaan Inca abad ke-15 menaklukkan bangsa-bangsa lain di sekitarnya, dan sebagainya.
Aksi kolonialisme negara-negara Eropa modern baru mulai sekitar abad ke-16.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.