ypmak
Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK)

Sastra

Membaca Cerpen 'Robohnya Surau Kami' Karya A A Navis dalam Perspektif Poskolonial

Haji Ali Akbar Navis (1924–2003) atau dikenal dengan nama A. A. Navis adalah sastrawan dan kritikus budaya kelahiran Padang Panjang, Sumatra Barat.

|
Tribun-Papua.com/Istimewa
Sastrawan asal Sumatera Barat, Ali Akbar Navis atau akrab dikenal A A Navis semasa hidupnya. 

Secara umum poskolonial dianggap sebagai teori, wacana, atau istilah yang digunakan untuk memahami masyarakat di daerah bekas jajahan, terutama setelah berakhirnya imperium kolonialisme modern.

Dalam pengertian yang lebih luas, poskolonialisme juga mengacu pada objek sebelum dan pada saat terjadinya kolonialisme.

Dalam perkembangannya, gagasan atau perspektif poskolonial secara interdisipliner dikemukakan oleh beberapa tokoh.

Tiga tokoh yang dianggap sebagai pencetus teori ini adalah Edward Said, Homi K. Bhabha, dan Gayatri Spivak.

Meskipun secara umum poskolonial sudah menjadi sebuah teori, saya lebih memilih menyebutnya dengan perspektif poskolonial dalam tulisan ini.

Sastrawan A.A Navis (kanan) tengah mengobrol bersama Bung Hatta (kiri) (G
Sastrawan A.A Navis (kanan) tengah mengobrol bersama Bung Hatta (kiri) (GoraEdu/aanavis.com)

2. Perspektif Poskolonial

Seperti yang telah saya kemukakan sebelumnya bahwa teori poskolonial digagas oleh Edward Said, Homi K. Bhabha, dan Gayatri Spivak.

Ketiga tokoh ini memiliki gagasan, perspektif, dan konsep mereka dalam membahas tentang poskolonial.

a. Perspektif Edward Said

Dalam pembahasan poskolonialme, Edward Said memandangnya dari perspektif orientalisme.

Edward Said mengemukakan bahwa orientalisme berkaitan dengan tiga fenomena yang saling berkaitan.

Pertama, seorang orientalis adalah yang mengajarkan, orang yang menulis tentang, atau meneliti dunia timur.

Ia boleh jadi seorang antropolog, sosiolog, sejarawan, atau filolog.

Orientalis adalah ahli atau ilmuan Barat yang mengklaim memiliki ilmu pengetahuan dan otoritas ilmiah untuk memahami budaya Timur.

Kedua, orientalisme mengacu pada perbedaan dua model pemikiran yang didasarkan pada ontologi dan epistemologi yang berbeda.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Papua
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved