ypmak
Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK)

Ekonomi

Mengapa Para Pendiri Unicorn seperti Tokopedia, Gojek, dan Bukalapak Hengkang?

Mengapa mereka ”tumbang” justru setelah perusahaan yang dulu mereka rintis itu berkembang menjadi unicorn dan decacorn?

Kontan/Baihaki
Ilustrasi - Helm Gojek 

Ben Silbermann, salah satu pendiri layanan pinboard digital Pinterest, mengundurkan diri sebagai kepala eksekutif.

Ada pula Joe Gebbia, salah satu pendiri Airbnb, yang mengumumkan pengunduran dirinya dari kepemimpinan perusahaan.

Apoorva Mehta, pendiri aplikasi pengiriman bahan makanan Instacart, mengakhiri pencalonannya sebagai ketua eksekutif ketika perusahaan itu IPO paling cepat pada 2022.

Di tahun yang sama, semua pendiri Twitter, Peloton, Medium, dan MicroStrategy telah mengundurkan diri.

The New York Times mengibaratkan, mereka telah mengendarai unicorn menuju ketenaran dan kekayaan.

Namun, ketika sampai di kondisi yang terjal, mereka merasa hal itu kurang menyenangkan.

Kondisi yang terjal yang dimaksud ialah pasar saham turun drastis pada 2022.

Ini berdampak sangat buruk bagi start up dan perusahaan teknologi skala besar lainnya. Mereka merugi.

Para pemodal ventura menarik kembali kesepakatan mereka dan mendesak start up dan perusahaan teknologi yang berharga di Silicon Valley untuk memangkas biaya.

Pemodal kemudian start up melanjutkan bisnis dengan hati-hati.

Kesabaran para pendiri semakin menipis.

Perusahaan yang mereka pimpin kemudian mulai tampak seperti liabilitas ketimbang aset.

Pada saat tulisan di New York Times itu dipublikasikan, saham Pinterest turun 60 persen dan saham Airbnb turun 25 persen dibandingkan dengan tahun 2021.

Instacart menurunkan penilaian internalnya hampir 40 persen pada Maret 2022 karena bersiap untuk IPO di tengah suasana pasar yang kurang bersahabat.

”Menjadi CEO tentu kurang menyenangkan ketika pasar sedang lesu, perekonomian sedang mengalami tren negatif, dan peraturan makin ketat,” ujar Kevin Werbach, profesor bisnis di Wharton School Universitas Pennsylvania kepada The New York Times.

Bukalapak membukukan kerugian bersih Rp 41,96 miliar pada triwulan I-2024.

Kerugian ini menyusut 96 persen dari periode yang sama pada 2023 senilai Rp 1 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan Bukalapak per 31 Maret 2024, perusahaan mengantongi pendapatan sebesar Rp 1,16 triliun atau tumbuh 16,18 persen dari pendapatan di periode sama pada 2023 senilai Rp 1 triliun.

Adapun berdasarkan laman Bursa Efek Indonesia, harga saham GoTo sempat menyentuh level terendah, Rp 50 per saham, sempat ambles hingga 12 persen secara point-to-point.

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede, saat dihubungi pada Senin (17/6/2024), di Jakarta, menyampaikan, fenomena pemutusan hubungan kerja (PHK) serta mundurnya para pendiri start up Indonesia dari puncak pimpinan yang terjadi beberapa tahun terakhir dipengaruhi oleh sejumlah faktor.

Faktor pertama ialah tingkat inflasi, kenaikan suku bunga, dan ketidakpastian geopolitik ekonomi global.

Kondisi suku bunga global yang cenderung higher-for-longer menyulitkan start up mendapatkan ongkos pendanaan yang murah.

Mitra pengemudi GrabBike di Jayapura, Papua
Mitra pengemudi GrabBike di Jayapura, Papua (Istimewa)

Faktor kedua ialah perubahan strategi bisnis dari internal start up.

Suatu perusahaan teknologi yang sudah berskala besar kemungkinan bergeser dari mengejar pertumbuhan cepat ke mengejar keberlanjutan dan keuntungan jangka panjang.

Ini bisa melibatkan penurunan jumlah karyawan dan mundurnya para pendiri.

”Faktor lainnya ialah persaingan ketat. Di pasar perdagangan secara elektronik atau e-dagang, misalnya, kami menilai ini telah mencapai titik kematangan sehingga pertumbuhannya tidak lagi secepat yang pernah terjadi sebelumnya. Agar tetap kompetitif, bisnis perlu melakukan perubahan manajemen yang signifikan,” kata Josua.

Achmad Zaky saat ditemui Kompas, Rabu (5/6/2024), mengatakan, pihaknya sekarang lebih suka membimbing para start up muda. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.id, silakan klik dan berlangganan.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved