Ekonomi
Mengapa Para Pendiri Unicorn seperti Tokopedia, Gojek, dan Bukalapak Hengkang?
Mengapa mereka ”tumbang” justru setelah perusahaan yang dulu mereka rintis itu berkembang menjadi unicorn dan decacorn?
Penulis: Paul Manahara Tambunan | Editor: Paul Manahara Tambunan
Menyusul berikutnya adalah Nadiem yang kini menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Ia menyatakan mundur dari Gojek pada 2019 setelah diminta Presiden Jokowi bergabung di kabinet.
Mengutip prospektus penawaran umum saham perdana (IPO) GoTo, Nadiem pernah memiliki 20,50 persen saham Gojek di awal pendirian.
Namun, namanya sudah tidak muncul sebagai pemegang saham saat merger Gojek-Tokopedia.
Sementara Kevin Aluwi, yang dulu adalah co-founder Gojek, juga mundur dari jajaran tertinggi GoTo.
Kevin kini diketahui menjadi venture partner di Lightspeed, sebuah perusahaan modal ventura untuk start up.
Fenomena yang sama terjadi di Bukalapak.
Achmad Zaky, salah satu pendiri Bukalapak, memutuskan mundur dari jabatan CEO Bukalapak pada Desember 2019, atau lebih kurang 1,5 tahun menjelang Bukalapak melakukan penawaran saham perdana.
Langkah ini diikuti dua pendiri Bukalapak lainnya.
Nugroho Herucahyono, yang menjabat sebagai chief technology officer di Bukalapak dari November 2009, mundur per Maret 2020.
Bersama dengan Zaky, Nugroho bergabung dengan perusahaan modal ventura bernama Init6 sejak April 2020.
Seorang pendiri Bukalapak lainnya, Muhamad Fajrin Rasyid, tak ketinggalan.
Ia juga sudah mundur dan kini menjabat sebagai Director of Digital Business Telkom Indonesia dari Juni 2020 sampai sekarang.
Managing Partner Discovery/Shift Rama Mamuaya, Senin (17/6/2024), di Jakarta, mengatakan, pendiri start up memiliki beberapa peran.
Peran pertama adalah starter yang memulai ide sampai menjadi bisnis ukuran kecil atau menengah.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.