Breaking News:

Kerusuhan di Papua

Cerita Pengungsi Kerusuhan Wamena, Keguguran setelah Berlari Menyelamatkan Diri

Kerusuhan di Kabupaten Wamena beberapa waktu lalu masih meninggalkan memori buruk pada para warga.

(KOMPAS.COM/HIMAWAN)
Pengungsi asal Semarang bernama Maria (kanan) yang alami keguguran saat kerusuhan di Wamena saat berada di Lanud Sultan Hasanuddin Makassar, Selasa (8/10/2019). 

TRIBUNPAPUA.COM - Kerusuhan di Kabupaten Wamena, Papua, beberapa waktu lalu masih meninggalkan memori buruk pada para warga, baik itu pendatang maupun warga asli yang tinggal di daerah itu.

Para warga yang berada di tengah-tengah kerusuhan hanya bisa menyelamatkan diri meski tempat tinggal beserta isinya sudah hangus terbakar.

Kisah pilu dialami Maria, seorang pengungsi asal Wamena asal Semarang yang mengalami keguguran saat kerusuhan berlangsung.

Cerita Para Pengungsi yang Ingin Kembali ke Wamena: Kalau Pulang Kampung Saya Harus Mulai dari Nol

Maria yang sempat transit di Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar, mengatakan bahwa ia keguguran setelah berlari menyelamatkan diri pada hari kedua kerusuhan.

Saat itu, Maria tengah hamil 5 bulan.

"Saya bersama suami hendak bekerja (jual ayam) jam 8 pagi. Tapi waktu itu sudah kerusuhan jadi lari," kata Maria.

Komnas HAM Minta Pengungsi Tak Sebarkan Informasi Bernada Provokasi terkait Kerusuhan Wamena

Saat di pengungsian, Maria mengalami pendarahan hingga akhirnya dilarikan ke rumah sakit.

Maria bersama keluarganya berada satu minggu di lokasi pengungsian di Jayapura sebelum kembali ke kampung halamannya di Semarang, Jawa Tengah.

"Sekarang sudah mendingan tapi kata dokter tidak boleh capek-capek lagi," tutur Maria.

Ekonomi di Wamena Mulai Menggeliat Pascarusuh, Namun Harga Makanan Mahal, 1 Ekor Ayam Rp600 Ribu

Maria mengaku trauma dan tidak ingin kembali ke Wamena.

Ia mengatakan baru tinggal selama dua minggu di daerah tersebut sebelum kerusuhan terjadi.

"Tidak (kembali ke Wamena). Takut sudah, kan tidak pernah lihat kayak gitu sebelumnya," ucap Maria.

Sebut Tak Ada Lagi Warga Eksodus dari Wamena, Pangdam Cenderawasih: Kini Kita Fokus Pulihkan Situasi

Sementara, Hasan Basri (38), salah satu warga yang mengungsi, tetap berharap bisa kembali ke Wamena.

Hasan mengatakan sudah nyaman bekerja sebagai sopir angkot di Kabupaten Wamena.

"Saya tetap ingin kembali ke Wamena," kata Hasan saat ditemui di Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar, Rabu (9/10/2019).

Tewas dalam Kerusuhan Wamena, Dokter Soeko Marsetiyo akan Diabadikan Jadi Nama Rumah Sakit Tolikara

Hasan mengaku baru beberapa bulan tinggal di sekitar kompleks Olala, Kabupaten Wamena.

Tinggal di sebuah indekos, Hasan mengaku menyaksikan langsung bagaimana rumah-rumah warga dibakar massa.

Saat itu, Hasan bersembunyi di sebuah plafon kamar kosnya.

Cerita 4 Dokter yang Bertugas ketika Kerusuhan dan Pasca-Kerusuhan di Papua

Ia sama sekali tidak menyadari bahwa aksi massa pada tanggal 23 September itu mendatangkan malapetaka bagi warga sekitar.

"Semua barang dan uang saya juga terbakar. Begitupun dengan mobil angkot. Dari puluhan mobil angkot di tempat saya bekerja, hanya tinggal 3 yang utuh," ucap Hasan.

Hasan sempat berputus asa ketika ia mengungsi di beberapa tempat di Papua.

Menangis di Sidang Paripurna, Anggota MPR dari Papua: Kasihan Pengungsi-pengungsi Wamena

Ia sempat mengungsi di Jayapura sesaat setelah mengungsi di sebuah daerah gersang yang membuat dirinya bersama rekan-rekannya kehausan.

Namun Hasan berharap ia bisa kembali ke Wamena setelah kondisi Wamena benar-benar pulih.

"Saya juga berharap rumah-rumah yang terbakar dibangun kembali," tuturnya.

(Kompas.com/Kontributor Makassar, Himawan)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Cerita Pengungsi Kerusuhan Wamena: Hasan Bersembunyi di Plafon, Maria Keguguran karena Lari

Editor: Astini Mega Sari
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved