Senin, 8 Juni 2026

Feature

Dari Office Boy Hingga Jadi Komposer Musik dan Ciptakan Lagu

Keinginan kuat menjadi musisi menghantar Stephen Wally menjadi komposer musik dan ciptakan lagu khas daerahnya, Papua

Tayang:
Penulis: Aldi Bimantara | Editor: Maickel Karundeng
Istimewa
Komposer Musik dan Pencipta Lagu, Stephen Wally 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Aldi Bimantara

TRIBUN-PAPUA.COM,JAYAPURA - Keinginan kuat menjadi musisi menghantar Stephen Wally menjadi komposer musik dan ciptakan lagu khas daerahnya, Papua.

Kala itu, Stephen Wally baru berusia 19 tahun, Ayahnya menanyakan cita-cita dia mau jadi apa, spontan ia menjawab ingin jadi seorang musisi.

Keinginan itu dipegang Hosea Wally, ayah tercintanya. Hosea bertekad mengirim anaknya ke Siantar, Sumatera Utara untuk melanjutkan studi di Perguruan Tinggi setelah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA).

Baca juga: Koalisi Terbelah, PAN Papua Gelar Rapat Bakal Cawagub Usulan Gubernur Lukas

Usai Stephen menyelesaikan pendidikan di SMA, sang ayah sibuk mempersiapkan segala kebutuhan anaknya selama menimba ilmu di Medan.

Dari Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura, Stephen terbang dengan pesawat menuju Medan, ibu kota Provinsi Sumatera Utara.

Setelah turun dari pesawat, Stephen melanjutkan perjalanan ke Siantar dengan menggunakan bus selama 2 sampai 3 jam.

Baca juga: 5 Khasiat Cengkeh yang Baik untuk Merawat Wajah, Rambut, dan Tubuh

Meski lelah karena perjalanan jauh, namun hari pertama ia masuk lingkungan kampus. Stephen bersemangat lantaran melihat anak-anak muda di sekitar situ memainkan alat musik.

"Nampaknya, ini akan menjadi tempat ku untuk belajar menjadi seorang musisi, Tuhan telah menjawab doa saya,"kata Stephen sembari mengingat kembali pertama menginjakan kaki di kampus.

Sebagai mahasiswa baru tentunya melihat suasana kampus, ketika melihat plank selamat datang di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, ia kaget.

Baca juga: Warga Tanah Hitam Blokade Jalan, Tuntut Polisi Usut Kasus Pemukulan

Rupanya, sang ayah tak mengirimnya ke sekolah musik, Stephen kecewa dan menuding bapaknya mempermainkan dia.

Ayahnya tak setuju anaknya mengambil jurusan musik, sebab tak menjamin masa depan. Menyesal dalam hati, tapi sudah terlanjur berangkat ke Medan untuk kuliah.

Stephen pasrah mengikuti kemauan orangtuanya, kuliah di Kampus keguruan tersebut, waktu itu dia memilih jurusan bahasa inggris.

Baca juga: Bocah 6 Tahun Diduga Dianiaya Ibu Kandung serta Ayah Tiri, sedang Disekap saat Diselamatkan Polisi

Meski pasrah dan mengikuti kemauan ayahnya,tetapi keinginan menjadi musisi terus menghantuinya.

Hanya tiga stengah tahun Stephen kuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Medan, ia memilih "drop out" tak melanjutkan kuliah.

Nekat menjadi musisi memaksa Stephen melawan orangtuanya yakni ayah, dan memilih keluar dari fakultas yang mencetak guru itu.

Baca juga: Viral Video ASN Perempuan Datang ke Kantor Suaminya dan Pecahkan Kaca Mobil Pakai Helm

Cita-citanya bertolak belakang dengan tuntutan keluarga yang mengharuskan tamat kuliah dan hidup mandiri. Stephen sempat frustasi karena tuntutan keluarga.

Berangkat ke Jakarta
Tuntutan keluarga bercampur aduk dengan keinginan kerasnya menjadi musisi membuat ia berfikir tak lagi kembali ke tanah kelahirannya, Papua.

Baca juga: Piktogram PON XX Papua Perkenalkan Event dengan Bahasa Unik dan Universal

Melewati perenungan panjang, lelaki asal Sentani, Kabupaten Jayapura itu memilih hijrah ke Jakarta mengadu nasib dan hidup.

Stephen berani merantau ke ibu kota negara karena mendengar cerita orang, bekerja sebagai Sopir "Mobil Blue Bird" dapat gaji besar.

Dengan biaya pas-pasan Stephen tiba di Jakarta, ia menemui seorang Sopir Blue Bird lalu mengajaknya bercerita, di sela-sela cerita, dia menanyakan pendapatan menjadi sopir.

Baca juga: Dinas Kesehatan Kota Jayapura Kejar Percepat Vaksinasi Jelang PON XX Papua 

Sopir tak menjawab, sebaliknya bertanya ke Stephen apakah ingin kuliah,maunya dimana. Dengan jujur dia mengaku ingin kuliah di jurusan musik, tapi tak ada kesempatan.

Mendengar pernyataan itu, Sopir menawarkannya kuliah musik di tempat atau kampus yang dia tahu lantaran sudah lama menetap di Jakarta.

Sang sopir menawarkan beberapa pilihan kampus di antaranya Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan tempat kursus lainnya.

Baca juga: Ragam Vitamin yang Terkandung dalam Bayam Merah

Setelah mendengar tawaran, Stephen meminta bantuan temannya mengantar dia ke Yogyakarta untuk kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Sayang, ketika sampai dan hendak mendaftar di Kampus ISI Yogyakarta, tak memenuhi syarat, lantaran tidak bisa membaca not balok.

Temannya mengantar Stephen kembali ke Jakarta lalu mendaftar di IKJ, lagi-lagi kampus itu mensyaratkan peserta didiknya harus membaca not balok, akhirnya dia tak diterima.

Baca juga: Ramalan Zodiak Besok, Kamis 26 Agustus 2021: Aquarius Penuh Kejutan, Leo Situasi Rumit

Keinginan Stephen bersekolah musik tak tercapai, ingin menjadi musisi jadi bayang-bayang yang terus mengganjal kepalanya.

Suatu ketika, ia menemukan sebuah brosur dari temannya, di brosur itu tertulis jurusan musik di Sekolah Musik Gereja, harganya relatif murah.

Tak menyia-nyiakan waktu, Stephen mendaftar dan ternyata dia peserta terakhir yang teregistrasi. Tak lama kemudian diinformasikan lulus di sekolah itu sebagai peserta dengan nilai tertinggi.

Baca juga: Warga Pertanyakan Sistem Lalin Ganjil Genap di Kota Jayapura

Stephen senang, saat itu ia merasa Dewi Fortuna sedang berpihak padanya. Saat malam keakraban,semua siswa baru, ditanya soal motivasi masuk ke kampus itu, tak kecuali Stephen.

Giliran dia, dengan lantang menjawab "saya ingin menjadi seorang musisi yang berguna bagi bangsa, gereja, masyarakat dan Papua."

Kesenangannya hanya sesaat, setelah jawaban itu, pihak kampus menyatakan "Stephen kami mohon maaf, jurusan musik telah tutup 2 tahun lalu."

Baca juga: DPW PAN Papua Siap Dorong Yunus Wonda dan Kenius Kogoya Dapatkan SK Rekomendasi DPP

Stephen kaget, tak pikir panjang, ia memilih banting stir masuk di jurusan pastoral di kampus itu dan lulus dengan gelar sarjana teologi.

Komposer Musik dan Pencipta Lagu, Stephen Wally
Komposer Musik dan Pencipta Lagu, Stephen Wally (Istimewa)

Walau sudah lulus sebagai seorang pendeta tapi jiwa musik yang sudah lama tumbuh di Fakfak dan Jayapura itu tak padam, terus berkobar.

Ekonomi di tanah rantau
Sesudah menyandang gelar sarjana, kesulitan baru datang yakni masalah ekonomi di tanah rantau, apalagi tinggal jauh dari keluarga.

Baca juga: Sorong Level 3, Angka Kematian Mulai Melandai

Stephen berupaya sekuat tenaga mencari kerja, suatu saat ketika mengajukan lamaran ke sebuah perusahaan sebagai tenaga teknisi informasi, tak memakan waktu lama, dia diterima.

Perusahaan mempercayakan Stephen mengurus server Singapura dan Australia. Suatu ketika server Singapura down,pimpinan memanggil dia dan tak sengaja melihat resumenya.

Pimpinan terkejut, saat mengetahui Stephen seorang sarjana Teologia. Latar belakang pendidikan itu membuat perusahaan memutuskan untuk memindahkan dia ke perusahaan lain dengan posisi Office Boy (OB).

Baca juga: Protes Ganti Rugi Tol Solo-Jogja, Pendukung Jokowi di Klaten Demo: Saya Minta Ganti Rugi Tinggi

Mungkin jalan Tuhan melalui OB. Tempat dimana Stephen bekerja sebagai OB, dekat dengan studio rekaman musik. Biasanya studio itu didatangi almarhum Glen Fredly dan Sandi Sandoro.

Keinginan menjadi musisi kembali tumbuh, lantaran saat melakoni pekerjaan OB, ia sering melihat proses para penyanyi melakukan rekaman musik di studio itu.

Jiwa suka musik yang sempat membeku, kembali cair ketika melihat aktivitas perekaman di studio di dekat tempat kerjanya.

Baca juga: Mabes Polri Kirim 51 Kendaraan ke Polda Papua, Dukung PON XX

Lalaki kelahiran Senggo itu mendapat angin segar meski tak terlibat perekaman di studio yang dia lihat, niat musisi kembali membara.

Sudah turun posisi menjadi OB, niat musisi kembali meroket, namun hanya sesaat. Suatu ketika, di kantornya ada pengangkatan pegawai baru, Stephen dipecat.

Komposer musik
Keinginan menjadi musisi tak pupus. Modal melihat orang rekaman di studio, membuat melodi, bermain drum dan lainnya, di tempat terakhir dia bekerja, Stephen mencoba membuat musik di rumahnya.

Baca juga: Viral Video Warga Adu Mulut Berebut Antrean Vaksin Pfizer, Kapuskes Jelaskan Kronologi

Saat itu ia membuat musik perdananya dengan menggunakan laptop merek Axio warna kuning, kapasitas 16 GB.

Masa itu, aplikasi Blackberry Messenger naik daun, Stephen memanfaatkan aplikasi itu untuk membuat lagu.

Beberapa lagu yang dibuatnya, diunggah. Lagu yang diunggah menarik reaksi dari rekan-rekan kerja sebelumnya.

Baca juga: 5  Perumahan Pemda di Yalimo Dibakar

Teman sejawatnya tertarik setelah mendengarkan lagu yang diciptakan Stephen, dia memutuskan untuk membeli.

Kesempatan emas itu tak disia-siakan, karya perdananya dijual dengan harga Rp1,1juta. Mungkin karena saking senang, tak sengaja Stephen menulis harga lagu perdananya Rp11 juta.

Kekeliruan menulis nilai uang itu tak berakibat fatal,malah sebaliknya membuahkan nilai tinggi, sama sekali tak dipikirkan Stephen.

Baca juga: KONI dan PB PON XX Papua Diminta Rincikan Penggunaan Dana Rp 150 Miliar, Ada Apa?

Mantan rekan kerjanya membeli 2 lagu dengan harga Rp22 juta. Anak pertama dari dua bersaudara itu gembira.

Pendapatan pertama dari dua lagunya, sebagian dibagi ke rekan-rekan kerja sebelumnya, termasuk Satpam.
Meski berbagai tapi sebagian disisihkan.

Terwujud sudah cita-cita menjadi musisi yang selalu menghantuinya. Modal dari dua lagu perdananya, memacu Stephen untuk pindah ke studio musik yang lebih baik.

Baca juga: Cengkeh Bisa Disulap Jadi Conditioner Rambut Lho, Yuk Simak Caranya

Dari studio musiknya itu, Stephen mengeluarkan bakat musik yang sudah lama dipendam, ia mengaransemen atau menciptakan lagu bagi musisi tanah air.

Salah satu lagu ciptaannya yang fenomenal dan dikenang masyarat Papua yakni "Tatinggal" di Papua.

Jika mengenang masa lalu, Stephen bersyukur dapat menjalani proses panjang, suka duka hingga kini jadi komposer musik hebat.

Baca juga: Tuan Guru Bajang Jadi Wakil Komisaris Utama Bank Syariah Indonesia

Lagu"Tatinggal" di Papua

Karya lagu "Tatinggal" di Papua terinspirasi dari alam bumi cenderawasih. Stephen merenung dan meresapi alamnya yang kaya, alhasil lagu itu keluar.

Stephen mengatakan lagu "Tatinggal" di Papua merupakan salah satu dari 7 lagu yang ia ciptakan dalam tujuh hari.

Bukan hobi musik tapi tukang kayu, tak sekolah musik tapi modal nekat, lelaki tiga anak itu mampu menciptakan lagu, dengan mengandalkan visualnya.

Ketika Stephen menutup dua matanya, ia mengenang ada gunung, lembah, sungai, dan hutan di negeri tercintanya, Papua.

Baca juga: Diet Air Putih Ternyata Punya Banyak Manfaat, hingga Bisa Menurunkan Tekanan Darah Lho

Memori masa kecil memainkan peran dalam menguntai kata-kata masih kental dalam lirik lagu "Tatinggal" di Papua.

Stephen menyebutkan dalam salah satu untaian lirik yang berbunyi "ana .. ana.. Papua e.." bermakna feminisme, dimana ia ingin menunjukkan Papua sebagai seorang ibu atau mama.

Kata "ana" dalam bahasa lokal Sentani berarti mama. Ketika dia menutup mata, menyelami liriknya, Stephen membayangkan Papua ialah mama yang memberikan air susunya sebagai sumber kehidupan.

Baca juga: Trailer Spider-Man: No Way Home Rilis, Ini Sinopsis dan Jadwal Tayangnya

Papua ibarat mama yang mengajarkan norma bertahan hidup, berkreatif, kejujuran dan keleluhuran.

Uniknya, saat ia memikirkan lirik demi lirik lagu "Tatinggal" di Papua, Stephen sedang berada di kamar mandi, lantaran saat itu ruangan studio sedang dipakai untuk rekaman.

Kini Stephen Wally jadi komposer musik ternama di wilayah tertimur Indonesa ini, lagu ciptaanya banyak dinyanyikan oleh sejumlah penyanyi di tanah air.(*)

Sumber: Tribun Papua
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved