Rabu, 15 April 2026

Mantan Napi Lapas di Yogyakarta Ngaku Disiksa, Dihajar Tanpa Alasan hingga Ada yang Lumpuh

Mantan narapidana, Vincentius (35)  mengatakan banyak tindakan pelanggaran HAM selama menjadi warga binaan Lapas Narkotika II A Yogyakarta.

(TRIBUNJOGJA.COM/MIFTAHUL HUDA)
VT menunjukan bekas luka akibat kekerasan di Lapas Kelas II A Yogyakarta, Senin (1/11/2021). 

TRIBUN-PAPUA.COM - Beberapa beberapa mantan narapidana Lapas Narkotika II A Yogyakarta, mengadu ke Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). 

Mereka mengaku telah mendapatkan siksaan dan kekerasan selama menjadi warga binaan.

Salah satu mantan narapidana, Vincentius (35)  mengatakan banyak tindakan pelanggaran HAM selama menjadi warga binaan lapas.

"Begitu masuk, tanpa ada kesalahan dipukuli pakai selang, diinjak-injak pakai kabel," kata Vincentius saat ditemui awak media di kantor ORI DIY, Senin (1/11/2021).

Baca juga: Pengakuan 2 Oknum Polisi yang Jual Amunisi ke KKB Papua, Baru Sekali Melakukan

Baca juga: Mahasiswi Ngaku Dibooking 3 Oknum Polisi yang Pesta Narkoba di Hotel: Begitu Datang, Diberi Ekstasi

Kekerasan itu dilakukan oleh oknum petugas Lapas dan sering terjadi ketika para narapidana baru masuk.

Kekerasan itu diterima Vincentius bersama 12 napi lainnya pada April 2021.

Oknum petugas yang menyiksa beralasan tindakan dilakukan lantaran Vincent dan 12 orang lainnya merupakan residivis.

Padahal lanjut, kata Vincent, tidak semua dari mereka adalah merupakan residivis.

"Tanpa alasan yang jelas saya dimasukkan ke sel kering, sel kering itu tidak bisa dibuka selama lima bulan," ungkap dia.

Kekerasan dialami Vincent sejak pertama kali masuk ke Lapas Narkotika Yogyakarta. Dia bercerita, kala pertama kali masuk lapas, diminta melepas semua pakaian dan disiram air.

"Kita ditelanjangi, disiram pakai air dan itu dilihat oleh semua staf," sebut Vincent.

Tak sampai di situ saja, Vincent mengungkapkan, selama menjadi warga binaan ada napi meninggal dunia karena buruknya layanan kesehatan.

"Dia sudah ada penyakit bawaan tapi kesehatannya tidak diperhatikan petugas. Dia ada penyakit paru, tapi tidak pernah dikeluarin, enggak pernah jemur, obatnya juga telat-telat. Cuma di RS beberapa hari dan balik ke lapas, dua hari meninggal," ungkap dia.

Baca juga: Kabid Humas Polda Papua : Semoga Pengamanan Peparnas XVI Berjalan Sukses Seperti PON XX 

Baca juga: Curi Barang di Bengkel Saat Hujan Deras, Kini LY di Amankan di Polsek Japsel 

Tak hanya siksaan fisik, tetapi mereka juga mendapatkan pelecehan seksual. Menurut Vincent, oknum petugas lapas bahkan menyiksa warga binaan yang tidak membuat kesalahan.

"Kita enggak ada kesalahan tetapi tetap saja dicari-cari kesalahannya. Itu pemukulan hampir tiap hari, di blok juga jarang dibuka untuk kegiatan rohani," kata dia.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved