Sejarah
Kisah Bung Hatta di Boven Digoel: Baca Buku, Main Catur hingga Mempersiapkan Api Revolusi
Selama satu tahun lamanya, Bondan hidup bersama Hatta dan lima pejuang kemerdekaan Indonesia lainnya dalam pengasingan di Boven Digoel.
Penulis: Paul Manahara Tambunan | Editor: Paul Manahara Tambunan
Bondan bersaksi bahwa hidup Bung Hatta hampir seluruhnya diabadikan pada perjuangan.
Dalam pengasingan di Boven Digoel saja, Hatta membawa 16 peti buku.
“Hampir seluruh waktunya ditumpahkan untuk belajar,” katanya.
Selama berada di Boven Digoel, kata Bondan, dirinya, Hatta, dan tahanan Belanda lain juga kerap bermain sepak bola.
Bung Hatta memilih sebagai bek atau pemain belakang, Syahrir di posisi centervoor atau gelandang, dan Bondan di sayap kanan.
“Kalau tidak, ia main catur atau dam-daman,” ungkap Bondan.
“Tetap semua itu dilakukan tanpa perhatian khusus, sehingga kalau kalah main pun tak ada pengaruhnya pada sikap Bung Hatta,” tuturnya.
Disiplin
Selama satu tahun tinggal bersama Hatta, Bondan pun menyadari bahwa lelaki yang kelak menjadi wakil presiden pertama RI ini sangat disiplin.
Katanya, Hatta punya kebiasaan membuat “time table” kegiatan sehari-harinya di Boven Digoel.
Baca juga: Organisasi Papua Merdeka
“Jam sekian menyalakan api untuk masak air. Dari jam sekian ke jam sekian belajar,” ungkap Bondan.
Kebersamaan Bondan dan Hatta di Boven Digoel berakhir ketika tahun 1936 pemerintah Belanda memindahkan Hatta dan Syahrir ke Bandaneira, Maluku.
Bondan sendiri tetap di Boven Digoel sampai Jepang menginjakkan kaki di tanah Papua sekitar tahun 1943.
Tahanan politik di Boven Digoel pun diangkut oleh Belanda ke Australia. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "16 Peti Buku dan Permainan Catur Bung Hatta dalam Pengasingan…"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/SEJARAH-Bung-Hatta-berdiri-ketika-m.jpg)