Minggu, 10 Mei 2026

Sejarah

Kisah Bung Hatta di Boven Digoel: Baca Buku, Main Catur hingga Mempersiapkan Api Revolusi

Selama satu tahun lamanya, Bondan hidup bersama Hatta dan lima pejuang kemerdekaan Indonesia lainnya dalam pengasingan di Boven Digoel.

Tayang:
Tribun-Papua.com/Istimewa
SEJARAH - Bung Hatta (berdiri) ketika menjelaskan lagi pendapatnya tentang saat-saat menjelang Proklamasi Kemerdekaan di rumah bekas penculiknya, Singgih (baju batik hitam) Jum'at siang kemarin. Tampak dari kiri kekanan: GPH Djatikusumo, D. Matullesy SH, Singgih, Mayjen (Purn) Sungkono, Bung Hatta, dan bekas tamtama PETA Hamdhani, yang membantu Singgih dalam penculikan Soekarno Hatta ke Rengasdengklok. (Kompas/JB Suratno) 

Bondan bersaksi bahwa hidup Bung Hatta hampir seluruhnya diabadikan pada perjuangan.

Dalam pengasingan di Boven Digoel saja, Hatta membawa 16 peti buku.

“Hampir seluruh waktunya ditumpahkan untuk belajar,” katanya.

Selama berada di Boven Digoel, kata Bondan, dirinya, Hatta, dan tahanan Belanda lain juga kerap bermain sepak bola.

Bung Hatta memilih sebagai bek atau pemain belakang, Syahrir di posisi centervoor atau gelandang, dan Bondan di sayap kanan.

“Kalau tidak, ia main catur atau dam-daman,” ungkap Bondan.

“Tetap semua itu dilakukan tanpa perhatian khusus, sehingga kalau kalah main pun tak ada pengaruhnya pada sikap Bung Hatta,” tuturnya.

Disiplin

Selama satu tahun tinggal bersama Hatta, Bondan pun menyadari bahwa lelaki yang kelak menjadi wakil presiden pertama RI ini sangat disiplin.

SEJARAH PAPUA - Kamp Pembuangan di Boven Digoel. (Arsip Nasional RI)
SEJARAH PAPUA - Kamp Pembuangan di Boven Digoel. (Arsip Nasional RI) (Tribun-Papua.com/Istimewa)

Katanya, Hatta punya kebiasaan membuat “time table” kegiatan sehari-harinya di Boven Digoel.

Baca juga: Organisasi Papua Merdeka

“Jam sekian menyalakan api untuk masak air. Dari jam sekian ke jam sekian belajar,” ungkap Bondan.

Kebersamaan Bondan dan Hatta di Boven Digoel berakhir ketika tahun 1936 pemerintah Belanda memindahkan Hatta dan Syahrir ke Bandaneira, Maluku.

Bondan sendiri tetap di Boven Digoel sampai Jepang menginjakkan kaki di tanah Papua sekitar tahun 1943.

Tahanan politik di Boven Digoel pun diangkut oleh Belanda ke Australia. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "16 Peti Buku dan Permainan Catur Bung Hatta dalam Pengasingan…"

Sumber: Kompas.com
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved