Senin, 11 Mei 2026

Sejarah

Perang Dunia II Membentuk Kota Jayapura

Nama pertama yaitu Hollandia berubah menjadi Sukarnopura, Port Numbay dan kini menjadi Jayapura.

Tayang:
Penulis: Roy Ratumakin | Editor: Roy Ratumakin
Encyclopædia Britannica
Pasukan Jepang pada saat Perang Dunia II. 

Pemukiman penduduk asli Jayapura dihuni oleh suku Tobati, Enggros, Kayu Pulo, Kayu Batu, Nafri, dan Sko Say, Sko Mabo, dan Sko Yambe.

“Sampai saat ini, mereka masih melestarikan tradisi mereka pemukiman di tengah perkembangan Kota Jayapura,” tandasnya.

 

 

Ditentukan oleh Pimpinan

Sosiolog Universitas Cenderawasih, Ave Lefaan mengungkapkan bahwa kehidupan multikultural atau multietnis bisa berkomunikasi dengan kelompok-kelompok masyarakat dengan latar belakang budaya yang berbeda-beda. Kondisi juga sangat ditentukan oleh institusi pimpinan yang ada.

“Misalnya Pak Wali Kota dan Wakil Wali Kota, sehingga pimpinan yang ada ini harus memiliki wawasan kepemimpinan tentang latar belakang primodialisme dari kelompok-kelompok yang hidup bersama,” ungkapnya.

Menurut Ave, di dalam sosiologi disebut dengan melting pot, merupakan sebuah wadah yang membuat masyarakat saling berkomunikasi secara eksternal maupun internal, sehingga proses-proses komunikasi yang terjadi dalam bentuk interaksi dapat berjalan dengan baik.

“Aturan-aturan atau institusi, kelembagaan-kelembagaan dan pranata-pranata harus ditegakkan, tanpa pranata maka interaksi atau komunikasi tidak akan berjalan secara bagus,” tuturnya.

Menurutnya, multukulturalisme di Kota Jayapura sangat tinggi, karena kondisi sangat plural.

Tapi sampai hari ini pergaulan dan interaksi sosial dapat berjalan dengan baik karena memang Wali Kota selalu memberikan imbauan dan komunikasi kepada masyarakat tentang bagaimana cara membangun kehidupan bermasyarakat di Jayapura.

Selain itu, aturan-aturan selalu diterapkan, sehingga masyarakat di Jayapura saat ini adalah masyarakat perkotaan yang kehidupannya sangat individual, tetapi unsur interaksi saling menghargai masih sangat tinggi di Kota Jayapura.

“Masyarakat kita saat ini tidak mengalami goncangan di dalam tatanan-tananan dengan kelompoknya sendiri, maupun dengan kelompok-kelompok yang lain,” ujarnya.

Dosen Pascasarjana Uncen ini mengakui bahwa beberapa pakar sosiologi telah berpendapat bahwa di dalam suatu organisasi masyarakat dengan latar belakang yang beranekaragam, mudah berkonflik.

Namun demikian, kata Ave, peranan pemimpinan bersama kelembagaan menjadi penting.

Sumber: Kompas.com
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved