Sejarah
Perang Dunia II Membentuk Kota Jayapura
Nama pertama yaitu Hollandia berubah menjadi Sukarnopura, Port Numbay dan kini menjadi Jayapura.
Penulis: Roy Ratumakin | Editor: Roy Ratumakin
Pemukiman penduduk asli Jayapura dihuni oleh suku Tobati, Enggros, Kayu Pulo, Kayu Batu, Nafri, dan Sko Say, Sko Mabo, dan Sko Yambe.
“Sampai saat ini, mereka masih melestarikan tradisi mereka pemukiman di tengah perkembangan Kota Jayapura,” tandasnya.
Ditentukan oleh Pimpinan
Sosiolog Universitas Cenderawasih, Ave Lefaan mengungkapkan bahwa kehidupan multikultural atau multietnis bisa berkomunikasi dengan kelompok-kelompok masyarakat dengan latar belakang budaya yang berbeda-beda. Kondisi juga sangat ditentukan oleh institusi pimpinan yang ada.
“Misalnya Pak Wali Kota dan Wakil Wali Kota, sehingga pimpinan yang ada ini harus memiliki wawasan kepemimpinan tentang latar belakang primodialisme dari kelompok-kelompok yang hidup bersama,” ungkapnya.
Menurut Ave, di dalam sosiologi disebut dengan melting pot, merupakan sebuah wadah yang membuat masyarakat saling berkomunikasi secara eksternal maupun internal, sehingga proses-proses komunikasi yang terjadi dalam bentuk interaksi dapat berjalan dengan baik.
“Aturan-aturan atau institusi, kelembagaan-kelembagaan dan pranata-pranata harus ditegakkan, tanpa pranata maka interaksi atau komunikasi tidak akan berjalan secara bagus,” tuturnya.
Menurutnya, multukulturalisme di Kota Jayapura sangat tinggi, karena kondisi sangat plural.
Tapi sampai hari ini pergaulan dan interaksi sosial dapat berjalan dengan baik karena memang Wali Kota selalu memberikan imbauan dan komunikasi kepada masyarakat tentang bagaimana cara membangun kehidupan bermasyarakat di Jayapura.
Selain itu, aturan-aturan selalu diterapkan, sehingga masyarakat di Jayapura saat ini adalah masyarakat perkotaan yang kehidupannya sangat individual, tetapi unsur interaksi saling menghargai masih sangat tinggi di Kota Jayapura.
“Masyarakat kita saat ini tidak mengalami goncangan di dalam tatanan-tananan dengan kelompoknya sendiri, maupun dengan kelompok-kelompok yang lain,” ujarnya.
Dosen Pascasarjana Uncen ini mengakui bahwa beberapa pakar sosiologi telah berpendapat bahwa di dalam suatu organisasi masyarakat dengan latar belakang yang beranekaragam, mudah berkonflik.
Namun demikian, kata Ave, peranan pemimpinan bersama kelembagaan menjadi penting.
Tribun-Papua.com
Sejarah
Kota Jayapura
Sejarah Kota Jayapura
Perang Dunia II
TribunEvergreen
Ester Yabeyapdi
Ave Lefaan
| Film Sejarah Indonesia yang Mengangkat Kisah Tokoh Nasional |
|
|---|
| Oemar Gatab: Sang Penjaga Senyap di Balik Tegaknya Intelijen Kepolisian |
|
|---|
| Demam Emas California: Kisah di Balik Penemuan Emas pada 24 Januari 1848 |
|
|---|
| 19 Januari: Perayaan Unik dari Salju hingga Rasa |
|
|---|
| KISAH Martha Christina Tiahahu: Srikandi Maluku yang Mengukir Sejarah dengan Darah dan Air Mata |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/15012024-Perang_Dunia_II.jpg)