ypmak
Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK)

Wabup Sarmi

Wabup Sarmi Hadiri Panen Perdana Bawang Merah di Distrik Bonggo

Ini menjadi tantangan tersendiri bagi petani. Namun, kami berkomitmen melanjutkan pendampingan, termasuk memastikan ketersediaan bibit dan pupuk," teg

Tribun-Papua.com/istimewa
PERTANIAN SARMI: Wakil Bupati Sarmi, Hj Jumriati, sesi foto bersama saat melaksanakan panen perdana bawang merah di SP 2 Distrik Bonggo, Kamis (24/4/2025). Mereka terkendala pupuk dan obat anti hama. 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Anderson Esris

TRIBUN-PAPUA.COM, SARMI - Wakil Bupati Sarmi, Hj Jumriati, didampingi Kadis Pertanian, Maria Marau, menghadiri panen perdana bawang merah milik warga di SP 2, Distrik Bonggo, Sarmi, pada (24/4/2025)

Wakil Bupati Sarmi, Hj Jumriati, apresiasi petani bawang merah yang akhirnya mencatatkan panen perdana dengan hasil estimasi 1 ton dari lahan seperempat hektare.

Baca juga: Pemkab Sarmi Bersama Polisi - Tentara Segera Operasi Sapi Liar yang Meresahkan

Jumriati mengatakan keberhasilan itu tidak lepas dari kerja keras petani bawang. 

"Meski ketersedian obat anti hama masih menjadi kendala serius di wilayah itu, namun semangat dan kerja keras para petani sehingga dapat membuakan hasil yang memuaskan,” katanya.

Kepala Dinas Pertanian Sarmi, Maria Marau, mengungkapkan bahwa obat-obatan pertanian seperti pestisida dan fungisida harus didatangkan dari Jayapura atau Arso.

Baca juga: Menoken di Hari Bumi: Komunitas Adat Mamta Tanam 200 Bibit Mangrove di Pesisir Pantai Sarmi Papua

"Ini menjadi tantangan tersendiri bagi petani. Namun, kami berkomitmen melanjutkan pendampingan, termasuk memastikan ketersediaan bibit dan pupuk," tegasnya.  

Ia berharap, kesuksesan panen perdana ini bisa memacu semangat petani, khususnya generasi milenial, untuk terjun ke budidaya bawang merah.

Baca juga: Pemkab Sarmi Apresiasi Respon Cepat Kementerian Terkait Sekolah Rakyat

"Ini bukti bahwa dengan penanganan tepat, bawang bisa tumbuh baik di Sarmi,” katanya.

Seput Senter, salah satu petani bawang, mengaku bahwa jamur menjadi ancaman terbesar. Pasalnya, hama seperti kutu atau belalang masih bisa dilihat, tapi jamur tidak. Makanya sejak awal, para petani harus rajin menyemprot fungisida.  

Baca juga: Dua Kementerian Pantau Kesiapan Pemkab Sarmi Dalam Mendukung Pendirian Sekolah Rakyat 

Selain jamur, petani juga terbebani oleh sulitnya mendapatkan benih dan pupuk setelah penyemprotan. "Kalau tidak ada stok, kami harus menunggu lama karena pengiriman dari luar daerah," keluhan

Dinas Pertanian Sarmi berjanji akan memperjuangkan solusi atas kelangkaan sarana produksi pertanian ini, sekaligus mendorong ekspansi penanaman bawang sebagai komoditas baru yang menjanjikan.(*)

Sumber: Tribun palu
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved