Senin, 18 Mei 2026

Perang Suku di Jayawijaya

Bupati Yahukimo Bantu Rp500 Juta untuk Pengungsi Konflik Wamena dan Serukan Perdamaian

“Kita ini adalah keluarga besar. Jika ada persoalan, harus diselesaikan dengan akal sehat dan duduk bersama dengan baik," kata

Tayang:
TribunPapuaTengah.com
KONFLIK JAYAWIJAYA - Bupati Yahukimo Didimus Yahuli saat menyalurkan bantuan Rp500 juta dan 4 ton beras kepada warga terdampak konflik antarkelompok masyarakat di Distrik Wouma, Jayawijaya, Papua Pegunungan. Foto Istimewa. 

Ringkasan Berita:
  • Kecam Aksi Brutal: Bupati Yahukimo Didimus Yahuli mengutuk penyerangan sepihak terhadap warga suku Yali dan Mek di Wouma.
  • Hapus Bayar Kepala: Pemerintah daerah sepakat menghentikan tradisi "bayar kepala" karena kerap menjadi pemicu utama konflik berulang.
  • Serukan Damai: Didimus meminta para pengungsi melepaskan dendam dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada aparat keamanan.

 

TRIBUN-PAPUA.COM, WAMENA - Perang antarkelompok masyarakat mengakibatkan jatuh korban anak-anak dan kaum ibu di Distrik Wouma, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan mendapat perhatian serius dari pemerintah Kabupaten Yahukimo.

Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli, mengakui prihatin dan mengecam aksi penyerangan brutal sepihak yang dinilai melanggar hukum kemanusiaan.

Pernyataan tegas ini disampaikan Didimus usai rapat koordinasi darurat bersama Forkopimda Provinsi Papua Pegunungan di Wamena, Jayawijaya, Minggu (17/5/2026).

Rapat strategis tersebut dihadiri oleh jajaran kepala daerah serta unsur pimpinan TNI dan Polri tingkat wilayah.

Baca juga: Wakil Bupati Mimika Tegaskan Pentingnya Disiplin dan Pengawasan Pegawai

Didimus menyatakan perbuatan keji tersebut bukan merupakan perang adat lazim yang terjadi di Papua.

Sebab itu, pihaknya mengutuk keras penyerangan terhadap warga suku Yali dan Mek yang saat kejadian, mereka sedang dalam kondisi tidur.

"Masyarakat dari suku Yali dan Mek sama sekali tidak memiliki sangkut paut atau kesalahan dalam persoalan ini. Namun, mereka justru menjadi korban yang diserang secara pengecut saat sedang tidur, bahkan rumah-rumah honai mereka dibakar," ungkap Didimus.

"Korban meninggal pun melibatkan anak-anak kecil dan kaum ibu. Ini adalah pelanggaran berat terhadap hukum kemanusiaan dan murni pemberlakuan hukum rimba yang tidak terhormat," timpal Didimus.

Baca juga: HIPMI Papua Tengah Siap Bawa UMKM Lokal Menuju Panggung Nasional

Menyikapi akar konflik yang terus berulang, Didimus dalam kesempatan ini menolak tradisi "bayar kepala" atau penyelesaian dengan uang darah.

Menurutnya praktik tersebut kerap menjadi pemicu utama rusaknya tatanan sosial dan memicu jatuhnya korban jiwa baru.

“Dalam forum ini telah disepakati bersama oleh seluruh kepala daerah dan unsur pengamanan bahwa tidak ada lagi praktik bayar kepala di masa mendatang,” beber Didimus.

Didimus juga mengklarifikasi soal lokasi bentrokan berada di Distrik Wouma atau masuk wilayah administrasi Kabupaten Jayawijaya. 

Baca juga: BMKG Prediksi 9 Distrik di Mimika Diguyur Hujan Ringan Awal Pekan Ini

Wilayah Kabupaten Yahukimo sendiri berjarak lebih dari 100 kilometer dari lokasi kejadian perkara.

Karena itu, Pemkab Yahukimo tetap turun tangan mengingat korban terdampak merupakan warga migran asal Yahukimo.

Sumber: Tribun Papua
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved