Info Mimika
2.235 Penderita TBC di Mimika Papua Berhasil Terobati
Pada 2022 berhasil melakukan pemeriksaan TBC kepada 12 ribu orang, di situ merupakan pencapaian pemeriksaan orang tertinggi
Penulis: Marselinus Labu Lela | Editor: M Choiruman
Dikatakan, perlu adanya intervensi terhadap faktor kesehatan lain yang bisa berpengaruh terhadap risiko terjadinya TBC secara signifikan seperti HIV, gizi buruk, diabetes mellitus, merokok, serta semua keadaan yang menyebabkan penurunan daya tahan tubuh.
"Kita harus mengobati pasien sesuai standar guna mencegah terjadinya kekebalan ganda kuman TBC terhadap obat anti TBC," ujarnya.
Ia mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat agar berpartisipasi membentuk dan membiayai kader TBC kampung.
Baca juga: Eliminasi TBC Harus Dilakukan Multisektor
"Fasilitas pelayanan kesehatan swasta juga kita harap melakukan pengobatan pasien TBC sesuai standar dan menyampaikan notifikasi kepada Dinas Kesehatan," imbuhnya.
Menurutnya, pengobatan tidak tepat dapat mengakibatkan timbulnya TBC resisten yakni obat yang dapat menghambat terwujudnya eliminasi TBC di Idonesia.
Pengobatan TBC resisten obat memakan waktu lama, dapat menimbulkan berbagai efek samping, serta memerlukan pembiayaan yang berlipat ganda dibandingkan dengan pengobatan TBC sensitif obat.
Baca juga: Tidak Semua Orang Terinfeksi Kuman TBC Mengalami Gejala Sakit
Tak hanya itu, beban sosial ekonomi pasien, keluarga, masyarakat dan negara akan meningkat bila jumlah pasien kebal obat TBC juga meningkat.
"Saya berpesan agar selain mengobati pasien TBC, fasilitas kesehatan dapat memberikan terapi pencegahan TBC sehingga tidak menular. Ini perlu karena tujuan kita di tahun 2030 tereliminasi di Mimika," pungkasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/Hari-TBC-di-Mimika.jpg)