ypmak
Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK)

PAPUA

Viktor Yeimo: Negara-Negara Ini Menjadi Bukti Program Makan Gratis Memiliki Tujuan Buruk

"Di Kanada, 1940-an sampai 1950-an, penjajah memaksa anak-anak sekolah di asrama makan makanan yang penuh zat kimia. Mereka bilang itu makanan sehat,

Tribun-Papua.com/istimewa/narsum
TOLAK MBG PAPUA:Juru Bicara Internasional Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Viktor Yeimo yang dihubungi, Senin, (17/2/2025), menilai program MBG yang diluncurkan pemerintah, memiliki tujuan buruk untuk masyarakat asli Papua. 

Laporan Wartawan: Tribun-Papua.com, Noel Iman Untung Wenda

TRIBUN-PAPUA.COM,WAMENA - Juru Bicara Internasional Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Viktor Yeimo menegaskan sepanjang sejarah, penjajah selalu datang dengan dua wajah.

Menurutnya yang satu datang dengan tangan menindas, tangan lainnya menawarkan kebaikan, hal ini dikataknya lantaran adanya rencana Pemerintah Prabowo-Gibran yang mengadakan makanan gratis dan sehat di seluruh Indonesia dan Papua, namun mendapat penolakan di sejumlah sekolah di Papua.

Baca juga: Anggota DPR Ini Soroti Rekomendasi MRP Papua Tengah Terkait Seleksi CPNS yang Tidak Memikah OAP

Yeimo menjelaskan, penjajah di berbagai belahan dunia telah menggunakan makanan sebagai senjata untuk membunuh, melemahkan dan menundukkan bangsa yang mereka jajah.

"Di Kanada, 1940-an sampai 1950-an, penjajah memaksa anak-anak sekolah di asrama makan makanan yang penuh zat kimia. Mereka bilang itu makanan sehat, tapi itu membuat anak-anak gizi buruk, lemah, sakit dan banyak mati," jelasnya melalui telepon selulernya, kepada Tribun-Papua.com, Senin, (17/02/2025).

Baca juga: MIRIS! Puluhan Pelajar di Kabupaten Nabire Gelar Aksi Penolakan MBG

Selain itu, kata Yeimo, selama perang Iran-Irak, ada laporan pasokan susu bubuk yg diberikan kepada anak-anak sekolah di Irak dan mereka telah terkontaminasi dengan zat beracun. Akibatnya, ribuan anak mengalami keracunan massal, banyak yang meninggal atau mengalami gangguan kesehatan permanen.

"Di Afrika Selatan 1980-an, di bawah rezim apartheid, anak-anak sekolah kulit hitam diberi makanan yang telah dicampur dengan zat kontrasepsi dan bahan kimia lain, melemahkan sistem kekebalan tubuh mereka," ujarnya.

Baca juga: Tokoh Adat Minta Pemerintah Kendalikan Jumlah Orang Masuk ke Papua

Ini Lanjut Yeimo, dilakukan untuk mengurangi pertumbuhan populasi kulit hitam dan menjaga dominasi kolonial kulit putih.

"Di Afghanistan, anak-anak dan pejuang diberikan makanan gratis yang ternyata sudah diracuni oleh Uni Soviet. Setelah mereka makan, tubuh mereka melemah dan banyak yang mati perlahan-lahan," ujarnya.

Dari sejarah yang ia jelaskan, kata Yeimo telah mengajarkan bahwa penjajah tidak pernah memberi makan tanpa tujuan baik di dalamnya.

Baca juga: Gabung dalam Tim Pembebasan Pilot Susi Air, 8 Anggota Polda Papua Terima Penghargaan dari Kapolri

"Anak-anak sekolah juga menjadi target karena mereka adalah masa depan dari bangsa yang ingin ditundukkan penjajah. Penjajah selalu membunuh, merampas dan menindas, tetapi di saat yang sama, mereka membangun jalan, sekolah, rumah sakit, dan membagikan makanan," kata Mantan Ketua KNPB Pusat tersebut.

Belajar dari sejarah dunia, hal ini bukan karena mereka peduli, tetapi karena memastikan adanya sifat tunduk dan taat kepada negara tanpa sadar maupun tidak sadar. "Mereka ingin memastikan bahwa kita tetap tunduk dan bergantung kepada mereka," ujarnya.

Baca juga: Aksi Mogok Massal Ojol Hari Ini: Aplikasi Mati, Tuntut Hak

Bahkan kata Yeimo, belajar dari sejarah Indonesia, Soekarno pernah bilang jangan sekali-kali percaya pada manisnya kata-kata penjajah."Mereka hanya ingin kita lupa bahwa kita masih dijajah. Penjajah memberimu makan gratis tapi tidak pernah memberi pendidiikan gratis apalagi menawarkan pendidikan yang membebaskan. Ini adalah siasat licik yang telah digunakan penjajah sepanjang sejarah untuk menguasai tubuh, pikiran dan tanah air kita," ujarnya.

Baca juga: Warga dan Kelompok TNI di Sorong Saling Serang Seperti Preman

Ia bahkan menambahkan jika orang Papua hidup maka, kata Yeimo tepatlah apa yang dikatakan Pendeta Benny Giyai bahwa, orang Papua masih hidup dalam penjara besar."Artinya, ini persis dengan penjara. Di sana kita makan gratis, tidur bangun dijaga dalam kurungan gratis, tapi tanpa memiliki kebebasan atau tetap dalam kurungan penjajah," tutupnya. (*)

Sumber: Tribun Papua
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved