Opini
Jayapura Beraksi Wujudkan Lingkungan Bebas Malaria
Pada 2016, angka kasus malaria meningkat menjadi 216 juta, naik 5 juta dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk menanggulangi hal ini, WHO meluncurkan Glo
Oleh : Janna Augusta Fabiola Kamawa
Fakultas Bioteknologi
Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta
Malaria adalah salah satu penyakit yang masih menjadi penyebab utama penderitaan dan kematian hingga kini. Penyakit ini disebabkan oleh parasit Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi. Parasit ini kemudian berkembang biak dalam sel darah manusia.
Keberadaan malaria ini bahkan telah tercatat sejak zaman kuno, berbagai upaya telah dilakukan manusia untuk mengendalikan penyakit ini, baik melalui tindakan pencegahan maupun pengobatan. Meskipun malaria dapat dicegah dan diobati, penyakit ini juga berpotensi fatal jika penanganannya tidak tepat.
Menurut World Malaria Report 2015, tercatat 214 juta kasus malaria di dunia, dengan 88 persen di antaranya terjadi di Afrika, menyebabkan 438.000 kematian. World Health Organization (WHO) juga melaporkan bahwa malaria telah merenggut 429.000 jiwa secara global pada tahun yang sama.
Baca juga: Sekolah Dasar di Kawasan 3T Biak Numfor Mulai Menerapkan USBK
Pada 2016, angka kasus malaria meningkat menjadi 216 juta, naik 5 juta dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk menanggulangi hal ini, WHO meluncurkan Global Technical Strategy for Malaria 2016–2030, sebuah strategi komprehensif untuk pencegahan dan pengobatan guna mencapai target eliminasi malaria. Sebagai bagian dari evaluasi, WHO menggunakan Annual Malaria Incidence (AMI) atau tingkat insidensi malaria tahunan sebagai salah satu indikator utama.
Provinsi Papua masih menjadi wilayah dengan beban malaria terberat di Indonesia. Data terbaru menunjukkan bahwa pada tahun 2020 terdapat 216.868 kasus malaria di Papua, dengan angka Annual Parasite Incidence (API) mencapai 78,40 per 1.000 penduduk.
Kota Jayapura menempati posisi kedua sebagai daerah dengan penularan tertinggi di provinsi ini. Tren kasus di Jayapura mengalami fluktuasi, dimana pada tahun 2019 tercatat 28.648 kasus (API 92,55), kemudian turun menjadi 28.075 kasus (API 89,35) di tahun 2020, namun kembali meningkat menjadi 30.235 kasus (API 99,49) pada tahun 2021.
Baca juga: Pj Gubernur Papua Ramses Limbong Angkat Tiga Plt Kepala Dinas: Layanan Publik Tetap Jalan
Distrik Jayapura Selatan menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak, dengan 3.409 kasus dan API 36,63 pada tahun 2020. Meskipun berbagai upaya pengendalian telah dilakukan, tantangan masih terlihat dari data tahun 2023-2024 yang mencatat sekitar 35.000 kasus pada 2023 dan 31.783 kasus dalam periode Januari hingga September 2024.
Secara nasional, kontribusi Papua sangat signifikan, mencapai 90,9 persen dari total kasus malaria Indonesia di tahun 2021 (86.022 kasus). Survei Riskesdas 2018 juga mengungkapkan bahwa 12 persen penduduk Papua dinyatakan positif malaria melalui pemeriksaan laboratorium. Kondisi ini menunjukkan bahwa malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di Papua, khususnya di wilayah endemis seperti Jayapura, sehingga diperlukan penguatan strategi penanggulangan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.
Baca juga: Ketua Bahlil Lahaladia Serukan Kader Golkar Menangkan Mathius-Aryoko pada PSU Pilkada Gubernur Papua
Program pencegahan malaria di Jayapura mengimplementasikan pendekatan 3M Plus (Menutup, Menguras, Menimbun plus pencegahan tambahan) sebagai strategi utama untuk memutus rantai penularan. Melalui program ini, masyarakat diajak berpartisipasi aktif dalam berbagai tindakan konkret seperti: (1) membatasi aktivitas malam di luar rumah, (2) menggunakan kelambu secara konsisten saat tidur, (3) memasang kasa nyamuk pada ventilasi rumah, (4) membersihkan lingkungan dari genangan air dan semak belukar, serta (5) memanfaatkan repellent sebagai perlindungan personal.
Langkah-langkah terpadu ini bekerja secara sinergis untuk mengurangi populasi nyamuk sekaligus meminimalisir kontak manusia dengan vektor malaria. Efektivitas pencegahan malaria sangat bergantung pada kombinasi antara perlindungan diri dan pengelolaan lingkungan. Praktik sederhana seperti penggunaan kelambu dan lotion anti nyamuk terbukti mampu menurunkan risiko penularan secara signifikan.
Sementara itu, modifikasi lingkungan melalui pemasangan kasa nyamuk, penataan vegetasi sekitar rumah, serta pembersihan rutin tempat-tempat potensial perkembangbiakan nyamuk berperan penting dalam menekan populasi vektor malaria di tingkat komunitas. Aspek lingkungan menjadi komponen kritis dalam strategi pencegahan. Genangan air yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk harus dikelola melalui program pembersihan berkala dan penataan drainase.
Baca juga: Pungli Mencatut Pemerintahan Papua Pegunungan, Gubernur John Tabo: Setop Provokasi, Saatnya Bekerja!
Selain itu, pengendalian vegetasi liar di sekitar permukiman tidak hanya mengurangi resting place nyamuk, tetapi juga meningkatkan sanitasi lingkungan. Kebiasaan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan secara kolektif terbukti mampu menciptakan ekosistem yang tidak mendukung siklus hidup nyamuk malaria. Dalam aspek klinis, pemberian obat antimalaria menjadi komponen penting baik untuk pencegahan maupun pengobatan kasus aktif.
Tribun-Papua.com
pelayanan kesehatan di kota jayapura
Tips Kesehatan
Berantas Malaria
Siaga Malaria (Siamal)
| Suara Manusia dari Timur di Hari HAM Sedunia |
|
|---|
| Aksi Damai Aliansi Mahasiswa Pemuda Peduli Tanah Adat dan Urgensi Respons Bijak Negara |
|
|---|
| Komite Eksekutif Otsus Papua, Mensejahterakan Rakyat atau Hanya Menenangkan Elite Daerah? |
|
|---|
| Bibit Rumput Laut Berkualitas Dukung Ekonomi Biru di Papua |
|
|---|
| Penguatan Lembaga Pelopor Pendidikan di Papua |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/xazXASCFASD.jpg)