Opini
Bibit Rumput Laut Berkualitas Dukung Ekonomi Biru di Papua
Menurut Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), 2022, Indonesia merupakan salah satu produsen rumput laut terbesar di dunia, te
Oleh: Kadek Adnya
Pemerintah Indonesia telah menetapkan rumput laut sebagai salah satu komoditas unggulan dalam pengembangan ekonomi biru, dengan rencana meningkatkan produksi dan ekspor dalam beberapa tahun ke depan. Prinsip ekonomi biru sendiri menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan sosial, dan pelestarian ekosistem laut.
Dalam konteks ini, rumput laut berperan penting karena dapat dibudidayakan secara ramah lingkungan dan memberikan dampak ekonomi langsung bagi komunitas pesisir. Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, Indonesia memiliki potensi besar dalam sektor kelautan, termasuk budidaya rumput laut yang menjadi sumber penghasilan penting bagi masyarakat pesisir.
Baca juga: Kopernik Dampingi Masyarakat Pulau Pai di Biak Budi Daya Rumput Laut
Menurut Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), 2022, Indonesia merupakan salah satu produsen rumput laut terbesar di dunia, terutama untuk jenis Eucheumatoids dan Gracilaria, yang banyak dimanfaatkan dalam industri pangan, farmasi, pakan ternak, pupuk alami, hingga pengolahan air limbah. Melihat besarnya potensi ini, pemerintah memasukkan rumput laut dalam rencana pembangunan nasional dengan focus di 26 provinsi, termasuk Papua. Meskipun belum menjadi produsen utama, Papua memiliki kondisi perairan yang masih alami dan cocok untuk budidaya rumput laut, memberikan peluang besar bagi pengembangan sektor ini di masa depan.
Papua memiliki garis pantai sepanjang 1.885 KM dengan perairan yang masih bersih, seperti di kepulauan Biak dan Yapen, yang memiliki potensi besar untuk budidaya rumput laut. Ekosistem laut yang minim polusi dan lingkungan yang mendukung pertumbuhan rumput laut berkualitas tinggi menjadikan wilayah ini berpotensi untuk pusat produksi baru.
Baca juga: Pemprov Papua Dorong Pengembangan Rumput Laut di 3 Kabupaten Ditingkatkan
Namun, pengembangannya masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satu kendala utama adalah minimnya ketersediaan bibit berkualitas, yang berpengaruh pada produktivitas dan daya saing hasil panen.
Akses Bibit yang Terbatas: Tantangan Budidaya Rumput Laut di Papua
Pak Daniel adalah seorang nelayan dan petani rumput laut dari Yapen, Papua yang mengelola lahan rumput laut kurang dari satu hektare. Ia sudah mulai melakukan budidaya rumput laut sejak sebelum pandemi COVID-19. Terus konsisten dalam usaha ini, Pak Daniel harus menempuh perjalanan dengan perahu selama berjam-jam ke pulau lain hanya untuk mendapatkan bibit rumput laut. Selain itu, ia hanya bergantung pada penilaian pribadi dan pengalaman dalam memilih bibit yang layak. Tidak hanya dialami oleh Pak Daniel, masalah serupa sering menjadi tantangan umum bagi para petani rumput laut di Papua.
Kualitas bibit sangat menentukan keberhasilan budidaya rumput laut. Biasanya, bibit dapat digunakan hingga 20 siklus tanam, setelah itu, kualitasnya menurun dan menjadi lebih rentan terhadap penyakit seperti penyakit ice-ice. Oleh karena itu, petani perlu memantau jumlah siklus yang telah dilalui dan menggantinya setelah 20 siklus. Sayangnya, petani seperti Pak Daniel belum memiliki kapasitas untuk melacak hal ini dengan tepat. Kondisi ini semakin diperburuk dengan terbatasnya akses terhadap bibit yang memiliki masa tanam yang lebih panjang.
Untuk mendukung peningkatan produksi, upaya pemerintah dalam memperluas akses terhadap bibit berkualitas menjadi sangat penting. Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, pemerintah menargetkan distribusi 800 kg bibit rumput laut di Fakfak dan Kaimana pada tahun 2024. Area kultivasi rumput laut di Papua diproyeksikan mencapai 18 ribu hektare. Oleh karena itu, diperlukan perluasan serta distribusi bibit rumput laut yang lebih masif untuk mendukung pencapaian target tersebut.
Baca juga: Pariwisata dan Kelautan Menjadi Skala Prioritas Pertumbuhan Ekonomi di Supiori
Solusi untuk Akses Bibit yang Lebih Baik
Untuk membantu petani rumput laut di Papua, penting untuk menutup kesenjangan pasokan bibit. Pada tahun 2024, Kopernik, sebuah organisasi riset dan pengembangan di Indonesia, melakukan penelitian untuk memahami tantangan yang dihadapi petani dan mengeksplorasi solusi yang potensial. Solusi-solusi ini dapat dikelompokkan ke dalam tiga tahap: tahap awal, tahap pengembangan, dan tahap lanjutan.
Baca juga: Bus Dinas Kelautan dan Perikanan Papua Diduga Angkut Massa ke Sarmi, ADA APA???
Tahap Awal: Membuat Pelatihan dan Panduan
Memberikan pelatihan dan panduan kepada petani tentang cara mengelola dan melacak siklus bibit, untuk meningkatkan hasil panen rumput laut.
Tahap Pengembangan: Pembibitan Lokal
Tribun-Papua.com
Rumput Laut
Papua
Papua Barat
Kelautan Supiori
Dinas Perikanan Papua
Kabupaten Kepulauan Yapen
Kabupaten Biak Numfor dan Supiori
| Suara Manusia dari Timur di Hari HAM Sedunia |
|
|---|
| Aksi Damai Aliansi Mahasiswa Pemuda Peduli Tanah Adat dan Urgensi Respons Bijak Negara |
|
|---|
| Komite Eksekutif Otsus Papua, Mensejahterakan Rakyat atau Hanya Menenangkan Elite Daerah? |
|
|---|
| Jayapura Beraksi Wujudkan Lingkungan Bebas Malaria |
|
|---|
| Penguatan Lembaga Pelopor Pendidikan di Papua |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/MSKADKASPDAKFNG.jpg)