Feature
Dua Tongkat Bantu Fredinand Rumaikewi Berdiri Jadi Juru Parkir
Tangan sebelah kirinya memegang peluit yang sudah lama, warna cokelat peluit itu nyaris pudar.
Penulis: Aldi Bimantara | Editor: Maickel Karundeng
Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Aldi Bimantara
TRIBUN-PAPUA.COM,JAYAPURA -Tangan sebelah kirinya memegang peluit yang sudah lama, warna cokelat peluit itu nyaris pudar.
Beberapa mobil diarahkan parkir didepan Pilos Cofee and Tea yang beralamat di Kawasan Ruko Pasifik Permai Dok II Jayapura.
Saban hari dia menggeluti pekerjaan juru parkir, namanya Fredinand Rumaikewi (35). Dia salah satu dari penyandang disabiltas di Kota Jayapura.
Lelaki kelahiran 3 Januari 1986 itu, tulang kaki sebelah kirinya patah, akibat kecelakaan yang menimpanya. Kini dua tongkat yang membantu dia berdiri mengatur parkiran kendaraan.
Baca juga: VIRAL Pembentangan Bendera Merah Putih 700 Meter di Bukit Pinggiran Danau Sentani
Siang itu, Rabu (11/8/2021) Fredinand sibuk mengatur parkiran kendaraan. "Abang juru parkir disini ka" Tribun-Papua.com menyapanya.
"O iya, mari kita cari tempat teduh" jawab lelaki berambut keriting itu sembari mengajak ke samping ruko Pilos Cofee and Tea.
Fredinand sibuk menyeka keringat yang mengalir didahinya dengan tangan kirinya, sembari menanyakan kedatangan Tribun.
Baca juga: 2 Satpol PP yang Berkelahi karena Nasi Kotak Sudah Damai, Ketua Beri Teguran: Jangan Buka Aib
Setelah saling mengenal, lelaki kelahiran Nabire itu mulai mengisahkan kecelakaan yang menimpanya hingga tak bisa jalan lagi seperti sebelumnya.
"Awal dari semua ini, waktu masih kuliah November 2008, saya mengalami kecelakaan di daerah dok 9 dan kaki saya harus dipasang pen,"kata Fredinand mengenang kembali peristiwa yang menimpanya.
Kala itu Fredinand mengendarai motor miliknya dari arah Jayapura Kota menuju kediamannya di daerah dok 9, ditengah perjalanan, bahan bakarnya habis sehingga harus singgah ke Pom Bensin terdekat.
Baca juga: Polsek Heram Tingkatkan Patroli Siang dan Malam
Setelah mengisi bensin, ia melanjutkan perjalanan, namun entah mengapa, mesin motornya tak lagi berbunyi.Tapi dia terus berupaya sampai mesin motor Supra miliknya bunyi.
Perjalanan dilanjutkan, sesampainya di depan Toko Aneka yang terletak di Jalan Sulawesi Dok 9 Jayapura, dengan kecepatan tinggi motor Yamaha Vixion dari arah belakang langsung menabraknya.
Saat ditabrak, Fredinand hanya melihat bayangan gelap dari arah belakang menghantamnya, seketika itu tak sadarkan diri.
Baca juga: Pencarian Pendaki Wanita di Gunung Kareumbi Dihentikan, Tim SAR: Banyak Asumsi dan Kecurigaan
Kecelakaan itu membuat warga sekitar Toko Aneka Dok 9 panik dan berhamburan keluar. Jelang 10 menit kemudian, teman-teman ayahnya melintas di lokasi itu.
Saat melintas, mereka mengenali Fredinand yang sudah tergelatak dijalan raya, sedikit darah dan kulitnya lecet.
Fredinand langsung dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Dok II Jayapura dalam keadaan tak sadarkan diri, antara hidup dan mati.
Meski sudah berada di rumah sakit dan ditangani, Fredinand masih belum siuman. Dua minggu lamanya koma, matanya tertutup, sudah tak ada harapan dari keluarga.
Baca juga: Gelar Patroli, Polisi Tangkap Pencuri Motor di Wamena
Setelah melewati dua minggu, Fredinad baru bisa membuka dua matanya, "saya dimana" ia bertanya pada diri sendiri.
Fredinand menoleh ke samping kiri bangsal, ibunda tercintanya sudah berdiri disitu. "Mama saya ada dimana ini, kenapa saya terselimuti kain," tanya Fredinand penuh linglung.
Ibunya langsung memeluk anak tercintanya lalu mengatakan "kamu di rumah sakit" akibat kecelakaan. Sejak dipeluk, dia mencoba menggerakan kakinya, tiba-tiba terasa berat.
Baca juga: Mutiara Hitam Jadi Lawan Berat Persib di Liga 1, Ini Kata Robert Albert soal Tim Persipura
"Mama, kaki saya terasa berat, ada apa?," tanya Fredinand lagi kepada sang ibu. Dengan nada haru dan suara terbata-bata, ibunya menjawab kakimu patah akibat kecelakaan.
Sungguh sedih ketika mendengar jawaban itu. Fredinand berteriak sembari merintihkan air mata, lantaran sudah tak bisa berjalan seperti semula.
"Mama saya punya kaki kenapa, mama tolong saya," Fredinand mengerang kesakitan memohon kepada ibunya dengan harapan bisa berjalan lagi.
Baca juga: 6 Kegiatan yang Wajib Dilakukan saat Merayakan Hari Natal bersama Keluarga
Kedua kaki Fredinand tak bisa lagi normal kembali, hanya pasrah kepada sang pemilik hidup dan berharap pada rumah sakit agar kaki yang kesakitan itu terobati.
Berkat pelayanan dokter dan tenaga perawat di RSUD Jayapura, tulang kaki sebelah kirinya yang patah, sakitnya turun.
Meski demikian, dokter yang menanganinya, menyarankan kepada keluarga agar Fredinand dirujuk ke Makassar untuk operasi dan pengobatan lebih lanjut, keluarga menyetujui.
Musibah itu membuat dia harus 4 kali menjalani operasi, agar bisa berdiri meskipun dengan bantuan dua tongkat dari rumah sakit.
Baca juga: ODGJ Bawa Senapan di Sikka Diburu Polisi, Sempat Ngamuk dan Bunuh 2 Warga Pakai Parang
Fredinand harus empat kali berada di atas bangsal operasi patah tulang di Rumah Sakit Dr Wahidin Sudirohusodo Makassar, Sulawesi Selatan.
"1 kali operasi penyembuhan, dan beberapa kali operasi untuk memasang alat penyangga pen di betis," kata Fredinand.
Sebenarnya, sekali lagi menjalani operasi untuk memasang pen platina di betisnya, hanya saja terkendala pembiayaan.
Baca juga: PAN Kritisi Pemerintah Tangani Covid-19, Jokowi Terlihat Lebam
Terkait itu, lelaki asal Serui itu pernah melayangkan proposal ke Wali Kota Jayapura dan Bupati Jayapura untuk meminta bantuan dana, namun ditolak, tidak diproses.
"Proposal ditolak di Kantor Wali Kota dan Kantor Bupati Jayapura, karena dana terbatas, mereka sedang fokus untuk penanganan Covid-19,"ujarnya.
Fredinand berupaya lagi mengajukan proposal bantuan dana ke Gubernur Provinsi Papua demi utuk kelanjutan operasi.
Baca juga: Gubernur dan Wagub Sumbar Ajukan Anggaran Mobil Baru saat Pandemi, DPRD: Apakah Pantas?
Namun, hingga kini belum ada respon dan jawaban. Pria yang hobi Karate itu, ingin kembali pulih dan berjalan normal, tanpa alat penyangga.
"Sudah 13 tahun sejak saya alami kecelakaan, saya jenuh dengan keadaan, tetapi saya selalu minta Tuhan kasi kekuatan," katanya.
Kejadian yang menimpa anak kedua dari 7 bersaudara itu terpaksa berhenti melanjutkan kuliahnya di Jurusan Hukum, Universitas Yapis Papua (Uniyap).
Baca juga: Bupati Puncak Willem Wandik: Kartu Orang Asli Papua Solusi Agar Masyarakat Bisa Rasakan Dana Otsus
Walau sudah menjalani serangkaian operasi penyembuhan, sempat terganggu secara psikis, namun sudah tertolong, ia bangkit dari keterpurukan hidupnya.
Juru Parkir
Kecelakaan itu membuat dia kurang mendapat perhatian dari keluarga. Cobaan hidup ini tak membuat dia putus asa, tapi berusaha mencari pekerjaan untuk membiayai kelanjutan hidup.
Baca juga: 189 Pedangan dan Pengunjung di Pasar Hamadi Kena Operasi Yustisi, 2 Orang Positif Covid-19
Dia tak patah arang, beragam cara ditempuh untuk mencari rupiah,namun tak membuahkan hasil. Akhirnya memutuskan untuk menjadi juru parkir di Kawasan Ruko Dok II Jayapura Papua.
Dari merapihkan kendaraan roda empat maupun kendaraan roda dua milik warga yang parkir di Kawasan Ruko Dok II Jayapura Papua, sehari meraup untung Rp200 ribu.
"Apalagi saat corona begini, orang yang datang ke sini (Pilos Cofee and Tea) juga sedikit," ujarnya.
Baca juga: Empat Parpol Belum Setujui 2 Nama Cawagub
Meski hanya mendapat Rp200 ribu, Fredinand masih sempat menyisihkan sebagian uangnya untuk anak-anak jalanan yang saban hari tinggal disekitar parkiran, tempat dimana dia bekerja.
"Intinya kita hidup walaupun serba kekurangan, harus bisa berbagi dan bermanfaat bagi orang lain,"katanya.
Fredinand berharap kisahnya dapat menjadi inspirasi bagi orang lain agar selalu bersyukur, walaupun dalam situasi sulit sekalipun.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/fredinan-1.jpg)