Feature
Darah Atlet Turun Dari Ayah Hingga Raih Puluhan Medali
Darah atletnya mengalir dari sang ayah sejak masih duduk dibangku Sekolah Dasar Kasonaweja, Kabupaten Mamberamo Raya, Papua
Penulis: Calvin Louis Erari | Editor: Maickel Karundeng
Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Calvin Louis Erari
TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA- Darah atletnya mengalir dari sang ayah sejak masih duduk dibangku Sekolah Dasar Kasonaweja, Kabupaten Mamberamo Raya.
Namanya Musa Mandan Karubaba. Ayah tercintanya, Ofni Karubaba seorang atlet dayung di Papua.
Ofni sempat mengharumkan bumi cenderawasih dengan meraih medali emas sekitar 1980 an, dan namanya dikenal dimasa itu.
Baca juga: Kapolda Diminta Segera Usut Pelaku Teror Jurnalis Papua Victor Mambor dan Lucky Ireeuw
"Darah atlet dari bapak itu turun ke saya, sehingga saya bisa jadi atlet renang," kata lelaki berusia 25 tahun ini.
Kala itu, Musa mendaftar dan fokus mengikuti latihan sebagai atlet renang sejak masih sekolah di SD YPK Kasonaweja, Mamberamo Raya.
Masa itu, Musa baru berusia, 11 tahun. Daniel Carlos Patay, pelatih yang membimbing sekaligus melatih Musa hingga mahir sebagai seorang atlet renang handal.
Baca juga: Curiga Ada 2 Ekor Sapi Mati di Dalam Mobil, Warga di Buton Amuk Terduga Pencuri Hewan Ternak
Daniel adalah atlet difabel bertalenta, meski kedua kakinya hilang karena bom ikan, tapi seluruh atlet asuhannya hebat, mengharumkan nama Papua dan Indonesia.
"Daniel rekrut saya untuk ikut latihan-latihan, kemudian pada 2008 ikut Pekan Paralimpiade Nasional atau Pekan Paralimpik Indonesia (Peparnas) di Samarinda, Kalimantan Timur," ujarnya.
Pekan Paralimpiade Nasional atau Pekan Paralimpik Indonesia adalah suatu ajang kompetisi yang menyerupai Pekan Olahraga Nasional bagi atlet penyandang disabilitas Indonesia.
Meski masih duduk dibangku sekolah dasar, Musa harus meninggalkan pendidikan dasar demi mengikuti pertandingan.
Baca juga: Air Rebusan Cengkeh Bisa Redakan Asam Urat yang Sering Kumat, Ini Tipsnya
Dulu, pertandingannya berbeda dengan saat ini, sulit mendapat atlet, satu atlet bisa mengikuti beberapa cabang olahraga, tak ada penginapan istimewa seperti saat ini.
Sebelum berangkat ke Samarinda, lautan didepan Argapura Pantai, Distrik Jayapura Selatan persis didepan rumahnya yang menjadi arena latihan pertama.
Kebetulan, Musa dan Carlos tinggal didaerah itu. Latihan disitu selama dua bulan lalu bertolak ke Samarinda.
Tak hanya itu, pemusatan latihan (TC) dulu dan sekarang berbeda. Kini mengikuti TC harus matang.
Baca juga: Aniayan Siswa SD, Oknum TNI Diproses Hukum
Kos dan makan di warung
Meski sudah mebjuarai pertandingan di Samarinda, tetapi latihan itu penting demi mempertahankan kepiawaian renang yang digeluti.
Sebelum mengikuti ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) di Pekanbaru, Riau pada 2011, dia bersama pelatihnya, Daniel mengikuti pra TC.
Pra pemusatan latihan difokuskan di Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah. Kala itu, Musa dan Daniel tinggal di kos-kosan.
Baca juga: Lukas Enembe Dinilai Keliru Ganti Dirut RSUD Jayapura dan Kadis Pendidikan Papua
Setiap pagi harus bangun pada pukul 05.00 WIB untuk mengikuti pra latihan hingga pukul 07.00 WIT bersama siswa normal disitu.
Latihan sore hari pada pukul 15.00 WIB hingga pukul 19.00 WIB. Musa harus mendorong sang pelatih dengan kursi roda sejauh satu kilo dari indekos ke tempat latihan, pagi dan sore.
Daniel, pelatih didorong dengan kursi roda karena kehilangan dua kakinya. Ketika sampai di kolam renang tempat latihan, kursi roda harus ditinggal dibawah.
Lantaran kolam renang diketinggian, Musa harus menggendong sang pelatih naik ke tangga ke kolam renang, setelah berlatih, digendong kembali turun tangga ke kursi roda.
Sungguh piluh, butuh perjuangan dan kesabaran. Makan-minum selama pra pelatihan seadanya.
Baca juga: Ada Bocoran Jadwal Liga 1 2021, Persipura Jayapura Kontra Persita Tangerang 27 Agustus Besok
Saban hari Musa dan Daniel harus mengganjal perut dengan membeli makanan di warung setelah latihan siang hari dan malam hari.
Tak ada topangan dana dari Pemerintah Provinsi Papua, kedua orangtua Musa yang mendukung selama di Pekalongan.
Prestasi
Berkat tangan dingin Daniel serta dukungan orangtua, Musa mengikuti sejumlah pertandingan, keluar sebagai juara, membawa pulang medali emas, perak dan perunggu.
Pada 2008 lelaki enam bersaudara itu mengikuti Peparnas di Provinsi Kalimantan Timur dan meraih satu medali perak, dua perunggu.
Tak hanya itu, Musa kembali membawa pulang dua medali emas dan satu perak setelah mengikuti Kejuaraan Nasional (Kejurnas) di Solo, Surakarta, Jawa Tengah, pada 2010.
Tiga medali emas kembali dalam genggaman tangan Musa Mandan Karubaba setelah bertanding di ajang Popnas Pekanbaru, Riau sejak 2011.
Ditahun yang sama, Musa mengikuti Pesta Olahraga Difabel Asia Tenggara (ASEAN Para Games) di Solo, Jawa Tengah, lagi-lagi lelaki bungsu dari enam bersaudara itu meraih lima medali emas.
Baca juga: Vaksinasi NasDem di Sorong Diancam Dibubarkan Satpol PP, Gubernur Papua Barat Berang
Lalu, pada 2012 lelaki murah senyum ini kembali mengikuti Peparnas di Pekanbaru, Riau dan berhasil membawa tiga medali emas.
Kemahiran renangnya membawa pria asal Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen itu empat kali berangkat ke luar negeri mewakili Indonesia bertarung melawan perenang dari berbagai negara.
Pada 2013 lelaki tiga anak itu, bertanding di Pesta Olahraga Remaja Asia (Asian Youth Games) di Bukit Jalil Malaysia, dan berhasil meraih satu medali emas dan dua perunggu.
Baca juga: Gubernur Papua Dinilai Tak Rasional Ganti Dirut RSUD Jayapura dan Dua Kepala OPD
Kemudian 2014, Musa kembali lagi ke Negeri Jiran untuk berlaga di ASEAN Para Games. Ia menang dan memborong lima medali emas.
Setelah laga itu, pada 2015 lelaki berkulit hitam manis ini berangkat ke Singapura mengikuti ASEAN Para Games, dia menang menggenggam empat medali emas dan satu perunggu.
Pada 2016, Musa bertolak ke Bandung, Jawa Barat untuk mengikuti Peparnas, ia meraih tiga medali emas.
Setelah dari Bandung, lelaki vokal itu melanjutkan perjalanan ke Madeire, Portugal guna mengikuti Paralympic Games, dan masuk peringkat delapan dunia.
Baca juga: Pertahankan Tas yang Hendak Dicuri, Firdaus Malah Dianiaya hingga Tewas di Pasar Jibama Wamena
Walau deretan prestasi gemilang ditorehkan ditiap laga, tetapi Musa terus berupaya memacu semangatnya lebih baik dari sebelumnya.
Pendidikan
Jika Musa hendak berangkat dan mengikuti latihan, maka ada surat masuk ke sekolahnya untuk meminta ijin.
Musa mengenyam pendidikan di Mamberamo Raya karena ikut kakanya yang berdomisili disitu. Sekolah memberikan ijin untuknya lantaran mewakili negara bertarung diberbagai iven bergengsi.
Baca juga: Liga 1 Belum Pasti Dimulai 27 Agustus, Berikut Penjelasan Mabes Polri
Tak hanya mengikuti pertandingan di tingkat nasional, mewakili pelajar tingkat Internasional juga diikuti.
Meski sekolah, tetapi jika ada pertandingan, maka Musa harus meninggalkan ruang kelas lalu berangkat.
"Demi kepentingan bangsa dan negara, demi merah putih saya korbankan sekolah saya untuk ikuti pertandingan," ujar lelaki berkumis itu.
Seperti pejabat sangat sibuk mengikuti latihan dan laga, tetapi menyelesaikan sekolahnya di SD YPK Kasonaweja.
"Kalau ada ujian, saya ijin datang untuk ikuti ujian baru kembali lagi ke Jawa untuk ikuti latihan dan bertanding," kata Atlet yang selalu berupaya memberikan yang terbaik ini.
Baca juga: Hapus Mural Wabah Sebenarnya adalah Kelaparan di Banjarmasin, Satpol PP Sebut Meresahkan
Setelah SD, ia melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Kasonaweja, Mamberamo Raya.
Dari pertandingan ke pertandingan, Musa nyaris menghabiskan separuh hidupnya di Pulau Jawa untuk fokus latihan.
Lantaran sibuk berlatih, mengikuti beragam pesta olahraga akhirnya Musa tak melanjutkan studi ke tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA).
Baca juga: Polisi Dapat Petunjuk Kuat Siapa Pelaku Pembunuhan Ibu dan Anak di Subang, Ini Kata Kapolres
Meski demikian, dia berupaya mendapatkan ijazah SMA melalui ujian paket. Sempat mendaftar ke Universitas Cenderawasih tepatnya di Fakultas Ilmu Keolahragaan.
Tapi, tak lulus, bukan nilai rendah, belum ada jurusan untuk difabel, hanya mereka yang normal, akhirnya Musa memilih tak kuliah.
PON dan Peparnas
Musa mengumpulkan puluhan medali tetapi sama sekali tak dihitung dalam dua iven olahraga yang bakal berlangsung di Papua yakni PON XX dan Peparnas XVI Tahun 2021.
Baca juga: Jejeran Baliho PON XX dan Peparnas XVI Dinilai Seperti Pesta Politik
Panitia PON sama sekali tak melirik bahkan memanggilnya untuk memberikan masukan kepada atlet renang yang sementara sedang berlatih.
Menurut Musa, kini atlet renang PON masih ketinggalan jauh, baik difabel maupun normal. Venue-venue masih ketinggalan jauh sehingga atletnya tak fokus.
Selanjutnya Perparnas, tak melibatkan dia, tak ada atlet difabel kebanyakan atlet normal. Difabel yang terlibat pun tak paham.
Baca juga: KKB Faktor Utama Papua jadi Daerah Merah
Musa mengaku membawa diri ke panitia Perparnas, tetapi hingga kini pengurus tak memanggilnya, banyak berdalih dan memberikan alasan terkait administrasi.
Penghargaan
Dia banyak mengharumkan nama Papua didunia olahraga baik tingkat nasional maupun Internasional tetapi tak ada penghargaan dan pembiayaan dari pemerintah daerah setempat.
Sikap apatis pemerintah daerah asalnya tak membuat Musa patah arang, ia tetap bertekad terus berjuang didunia olahraga memberikan yang terbaik untuk tanah kelahirannya.
Hanya Negara atau pemerintah pusat yang memberikan penghargaan dan biaya selama mengikuti setiap pertandingan.
Baca juga: Polda Kembali Berlakukan Penerapan Ganjil Genap Tahap II Minggu Depan
Pemerintah pusat pernah menobatkan dia sebagai atlet terbaik. Pada 2012 Musa dikasih bonus tiket gratis dari maskapai penerbangan Garuda Indonesia untuk dua orang, jalan-jalan keliling Indonesia selama satu tahun.
Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah memanggilnya ke Istana Negara untuk silahturahmi pada 2011.
Di 2016 pemerintah pusat memberikan penghargaan atlet terbaik asal Papua, tak ada bonus lainnya.
Musa juga pernah menemui Presiden Joko Widodo pada 2020. Sempat tanya jawab langsung dengan Jokowi.
Baca juga: Atap Margo City Mall Ambruk, Pegawai dan Pengunjung Panik dan Berhamburan Keluar Gedung
Lelaki bibir merah karena makan pinang itu meminta kepada Jokowi memberikan bonus pekerjaan sebagai seorang pegawai negeri sipil.
Tetapi hingga kini, namanya tak ada dalam daftar lulus Calon Pegawai Negeri (CPNS) yang sudah diberikan Surat Keputusan (SK) sebagai PNS.
"Jadi ada baiknya, tapi juga jadi atlet itu ada sakitnya, parahnya lagi dilupakan dari dunia olahraga,"ujarnya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/musa-mandan-karubaba.jpg)