Senin, 8 Juni 2026

YPMAK

SATP Mimika Terapkan Metode Montessori Demi Akomodir Motorik Kinestetik Anak Papua

Penerapan metode ini dilakukan setelah melalui kajian panjang terhadap karakteristik peserta didik SATP yang 100 persen merupakan anak

Tayang:
Tribun-Papua.com
SATP- SATP Mimika, tengah menerapkan model pembelajaran Montessori sejak Juli 2024, di Ruang Kelas Montessori SATP, Jalan Sopoyono SP 4, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, Senin (16/2/2026). 

Hasilnya pun mulai terlihat. Dalam penampilan kelas 1 pada 14 Februari lalu, siswa yang baru menjalani pembelajaran selama empat bulan menunjukkan perkembangan signifikan.

Baca juga: YPMAK Gandeng Pakar Ekspor Latih Warga Kamoro Produksi Minyak Kelapa

“Persiapannya hanya empat bulan, dan hampir semua sudah bisa baca, tulis, dan hitung secara konkret. Dengan metode ini jauh lebih efektif karena sesuai dengan karakteristik mereka,” ungkapnya.

Sementara Kepala Program Montessori SATP, Theodora Karmayanti Widyaningsih menjelaskan, Program pembelajaran di sekolah ini menekankan pada penguatan bahasa lisan, sebagai bagian dari konsep early childhood  (Anak Usia Dini), early literacy (Literasi Dini/Keaksaraan Awal) dan early childhood education (Pendidikan Anak Usia Dini/PAUD). 

Salah satu fokus utama adalah pengembangan bahasa lisan yang terintegrasi dengan aktivitas pembelajaran literasi. 

"Kegiatan seperti pertunjukan seni dan aktivitas kreatif lainnya dirancang agar bermakna bagi anak. Dengan demikian, anak tidak sekadar menghafal, melainkan memahami secara alami," kata Theodora. 

Ia menjelaskan, melalui pendekatan tersebut, anak diperkenalkan pada berbagai kosakata dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: 600 Guru Kabupaten Jayapura Sepakat Mogok Hingga Waktu Tidak Pasti

Misalnya, belum tentu semua anak mengetahui nama benda seperti rak atau dingklik. Karena itu, keterlibatan anak dengan lingkungan menjadi hal penting agar mereka mengenal dan memahami istilah-istilah tersebut.

Komunikasi antara guru dan siswa juga menjadi kunci dalam memperkaya kosakata anak. 

Percakapan, bernyanyi, dan berbagai aktivitas lisan lainnya dilakukan agar bahasa Indonesia yang mereka gunakan menjadi lebih bermakna dalam keseharian.

Selain itu, aktivitas pembelajaran dirancang untuk melatih konsentrasi dan koordinasi gerak tangan guna menstimulasi perkembangan otak anak.

Seluruh kegiatan dilakukan secara praktik. Anak mengambil alat yang telah dijelaskan penggunaannya oleh guru, kemudian memilih aktivitas yang ingin dikerjakan.

Baca juga: DPRK Jayapura Ajak 600 Guru Mengajar Walau Hak Mereka Rutin Terhambat Tiap Tahun

Setelah menyelesaikan tugas secara mandiri, mereka meminta persetujuan guru sebelum beralih ke kegiatan lain.

Setiap anak juga didampingi untuk mengungkapkan perasaannya, apakah merasa senang, kesulitan, atau tidak nyaman.

Guru mencatat perkembangan harian secara detail melalui catatan khusus, layaknya rekam medis, sehingga perkembangan tiap individu dapat terpantau.

Kegiatan belajar dimulai pukul 07.00 WIT. Pada 30 hingga 40 menit pertama, anak mengikuti kegiatan pembukaan seperti meditasi dan mendengarkan cerita.

Sumber: Tribun Papua
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved